Aksi moneter sejumlah bank sentral di Asia menopang kinerja indeks pasar






Minggu IV November 2019

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap memengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut

Sentimen negatif mendominasi pergerakan bursa domestik dan regional minggu lalu. Aksi moneter sejumlah bank sentral di kawasan Asia menjadi penopang kinerja indeks pasar, ditengah isu ketidakpastian perang dagang. Pernyataan para pejabat AS dan China yang kontradiktif, menciptakan kebingungan di pasar. Bahkan kekhawatiran pelaku pasar bertambah, pasca Senat AS meloloskan RUU HAM dan Demokrasi Hongkong, yang diprotes China sebagai upaya AS mencampuri urusan dalam negeri China dan mendukung aksi para demonstran di Hongkong. Ketidakpastian penyelesaian negosiasi dagang kedua negara menjadi semakin meningkat. Penyelesaian negosiasi diprediksi berlanjut pada tahun 2020, seiring keinginan keras China agar AS menghapus tarif impor yang saat ini berlaku.

Dari domestik, Bank Indonesia mempertahankan kebijakan bunga acuan-7DRR seperti yang diperkirakan pelaku pasar. Pada RDG Bank Indonesia 20-21 November 2019, otoritas moneter menahan bunga acuan di level 5,0 persen, dengan bunga deposit facility dan lending facility masing-masing bertahan pada 4,25 persen dan 5,75 persen. Ditengah ekonomi global yang melambat, kebijakan ini ditempuh dengan pertimbangan laju inflasi yang terkendali, stabilitas eksternal yang terjaga, serta dalam upaya mendongkrak kembali pertumbuhan ekonomi domestik.

Bank Indonesia juga menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) Rupiah untuk Bank Umum Konvensional dan Bank Umum Syariah/Unit Usaha Syariah sebesar 50 bps, masing-masing menjadi 5,5 persen dan 4,0 persen, dengan GWM Rerata masing-masing tetap sebesar 3,0 persen, dan berlaku efektif pada 2 Januari 2020. Kebijakan ini ditempuh guna menambah ketersediaan likuiditas perbankan dalam meningkatkan pembiayaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Dari ekonomi Jepang, nilai ekspor di bulan Oktober 2019 menurun 9,2% yoy menjadi JPY 6,58 triliun, sedangkan impor melemah 14,8% yoy menjadi JPY 6,56 triliun. Dampak perang dagang dan lesunya permintaan domestik membawa neraca dagang surplus JPY 17,3 miliar dari defisit JPY 124,8 miliar dibulan sebelumnya.

lndikator dini manufaktur- Jibun Bank Japan Manufacturing PMI bulan November sedikit naik ke level 48,6 dari level final Oktober 48,4. Kontraksi aktivitas manufaktur Jepang dalam 7 bulan berturut-turut terjadi sejalan dengan turunnya order baru, output produksi, dan permintaan ekspor.

Dari ekonomi China, otoritas moneter-People’s Bank of China (PBOC) secara mengejutkan memangkas bunga acuan jangka pendek-7 days reverse repo sebesar 5 bps dari 2,55 persen menjadi 2,50 persen pada 18 November 2019. Penurunan ini menjadi yang pertama dalam 4 tahun, dengan tujuan mendorong kembali ekonomi China yang melambat. Hal ini menyusul keputusan PBOC yang sebelumnya memangkas bunga pinjaman medium-term lending facility (MLF). Di sektor investasi, investasi asing langsung (FDI) yang masuk ke China tumbuh 6,6% yoy menjadi CNY 752,41 miliar untuk periode Jan-Okt 2019.

Dari ekonomi Eropa, indikator flash PMI untuk kawasan Eropa, yang masih bertahan dibawah level 50. PMI manufaktur November sedikit naik dari level 45,9 ke level 46,6. Momentum pertumbuhan manufaktur Eropa menurun akibat lemahnya pesanan baru yang diterima bisnis.

Dari sisi ekonomi AS, indikator ekonomi terkini AS-CEI terbitan The Conference Board stabil di level 106,5 pada buIan Oktober, menyusul kenaikan 0,1% di buIan sebelumnya. Sedangkan indikator prospek ekonomi-LEI menurun 0,1% ke level 111,7, pasca melemah 0,2% di buIan September dan Agustus 2019. Hal ini mengindikasikan potensi pertumbuhan ekonomi AS yang makin melambat, seiring lesunya order baru yang diterima pabrikan, dan rerata mingguan pendapatan per jam tenaga kerja.

lndikator NAHB Housing Market Index di buIan November sedikit menurun ke level 70 dari level buIan sebelumnya, 71 dan ekspektasi pasar di level yang sama. Optimisme pengembang perumahan AS relatif terjaga, ditopang ekspektasi penjualan rumah yang meningkat dalam 6 bulan mendatang.

Sektor perumahan AS mencatat kinerja yang meningkat di bulan Oktober 2019. Pembangunan rumah baru (housing starts) tumbuh 3,8% mom mencapai 1,314 juta unit (SA annual rate), menyusul penurunan 7,9% di buIan sebelumnya. Sementara untuk izin mendirikan bangunan (building permits) meningkat 5,0% mom menjadi 1,461 juta unit, atau tertinggi dalam 12 tahun. Secara tahunan, pembangunan rumah baru dan izin mendirikan bangunan tumbuh 8,5% dan 14,1%, didorong melesatnya permintaan dan pembangunan rumah tinggal baru. Penjualan stok rumah AS (existing home sales) di buIan Oktober 2019 tumbuh 1,9% mom menjadi 5,46 juta unit (SA annual rate), ditopang kuatnya pertumbuhan permintaan rumah tapak sebesar 2,1%. Median harga rumah di AS meningkat 6,2% yoy menjadi USD 270.900.

Notulensi FOMC Oktober 2019 memberikan sinyal bahwa The Fed tidak akan memangkas suku bunga acuan FFR dalam waktu dekat. The Fed akan terus memonitor perkembangan sejumlah indikator utamanya seperti kondisi pasar tenaga kerja, tekanan inflasi dan perkembangan kondisi ekonomi dan keuangan global.

Di sektor manufaktur, indikator flash IHS Markit US Manufacturing PMI November naik ke level 52,2 dari level final bulan Oktober 51,3. Ekspansi sektor manufaktur AS ditopang oleh melonjaknya pertumbuhan output produksi.

Klaim tunjangan pengangguran mingguan (per 16 November 2019) relatif stabil sebanyak 227 ribu aplikasi. Rerata 4 mingguannya meningkat 3.500 aplikasi menjadi 221 ribu aplikasi. Kondisi ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS yang solid.

Minggu I Desember 2019

Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain

* USA: GDP Q3 2019 (2nd estimate), personal income and outlays, PCE price index, durable goods orders, new home sales, pending home sales, consumer confidence, ISM Manufacturing PMI
* Jepang: Output industri, penjualan retail, consumer confidence, Jibun Bank Japan PMI
* China: NBS PMI, Caixin PMI, profit industri
* EU: Business climate, consumer confidence, Markit PMI, inflasi
* Indonesia: Danareksa consumer confidence, Markit PMI

 

 

Sumber: Danareksa Research Institute (DRI), PT Danareksa (Persero)
Photo by Christian Wiediger on Unsplash