DRI: Cadangan devisa Indonesia bulan April 2020 naik menjadi USD 127,880 miliar






Minggu I Mei 2020

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap mempengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut:

Ekonomi Indonesia
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Q1 2020 turun menjadi 2.97% yoy, lebih rendah jika dibandingkan dengan Q1 2019 yang mampu tumbuh sebesar 5.07% yoy. Pertumbuhan ekonomi pada Q1 2020 merupakan pertumbuhan ekonomi terendah sejak Q1 2001. Secara kuartalan pada Q1 2020 pertumbuhan ekonomi terkontraksi sebesar -2.41% qoq. Hal ini terjadi karena dimulainya penerapan kebijakan PSBB pada pertengahan April sehingga dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi sudah terasa.

Cadangan devisa Indonesia bulan April 2020 naik menjadi USD 127,880 miliar dari bulan sebelumnya sebesar USD 120,968.88 miliar. Peningkatan cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi oleh penerbitan global bond pemerintah.

Inflasi bulan April naik tipis 0.08% mom (+2.67% yoy), inflasi tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi pada bulan Ramadhan tahun sebelumnya. Perubahan pola konsumsi terjadi pada Ramadhan tahun ini akibat penerapan kebijakan PSBB dari pemerintah untuk mengurangi penyebaran Covid-19 di Indonesia. Rendahnya inflasi pada bulan ini juga mengindikasikan adanya penurunan permintaan pada barang dan jasa yang berakibat pada rendahnya daya beli masyarakat.

IHS Markit Manufacturing PMI Indonesia turun ke level 27.5 pada bulan April 2020 dari bulan sebelumnya yang berada pada level 45.3. Hal ini terjadi karena adanya kebijakan PSBB yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi penyebaran Covid-19 yang berdampak pada tutupnya pabrik – pabrik dan penurunan permintaan.

Kedatangan turis mancanegara ke Indonesia pada bulan Maret turun tajam sebesar 64.11% yoy menjadi 470,9 ribu menuju level terendahnya sepanjang pencatatan. Hal ini terjadi akibat pembatasan akses yang dilakukan negara – negara di dunia akibat penyebaran Covid-19.

Dari harga komoditas, minyak mentah AS (WTI) mengalami kenaikan harga sebesar 5% pada perdagangan hari Jumat 8 Mei 2020 menjadi USD 24,74/ barel, sementara itu untuk harga minyak mentah Brent ditutup naik 5.1% ke level USD 30,97/ barel. Hal ini terjadi karena produsen minyak AS memotong produksi dengan penurunan jumlah rig pengeboran hingga jatuh ke rekor terendahnya. Harga emas turun 0.5% pada akhir perdagangan di hari Jumat tanggl 8 Mei 2020 menjadi USD 1,700/ ons setelah mencapai level tertingginya pada tanggal 27 April 2020.

Ekonomi Jepang
Pengeluaran rumah tangga Jepang turun 6% yoy pada bulan Maret 2020 menyusul penurunan sebesar 0.3% yoy pada bulan sebelumnya. Ini merupakan penurunan keenam secara berturut – turut akibat konsumen mengurangi konsumsinya sebagai respon terhadap dampak penyebaran Covid- 19.

Jibun Bank Japan Composite PMI turun ke level 25.8 pada bulan April 2020 setelah bulan sebelumnya berada pada level 36.2. Sementara itu, Jibun Bank Japan Services PMI berada pada level 21.5 pada bulan April 2020 setelah bulan sebelumnya sebesar 33.8.

Ekonomi Eropa
Perdagangan ritel kawasan Eropa turun 9.2% yoy pada bulan Maret 2020, ini merupakan penurunan terbesar sejak pencatatan yang dimulai pada tahun 1996.

Producer Price Index (PPI) kawasan Eropa pada bulan Maret 2020 turun 1.5% mom setelah pada bulan sebelumnya mengalami penurunan sebesar 0.7% mom. Ini merupakan penurunan harga produsen paling tajam sejak November 2008.

Ekonomi China
Surplus neraca perdagangan China melebar menjadi USD 45,34 miliar pada bulan April 2020 dari bulan yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 13,02 miliar. Sementara itu untuk surplus perdagangan dengan AS juga melebar menjadi USD 22,9 miliar dari bulan sebelumnya sebesar 15,3 miliar. Ekspor meningkat sebesar 3.5% yoy menjadi USD 200, 28 miliar pada bulan April 2020 sementara itu untuk impor turun 14.2% yoy menjadi 154,94 miliar, ini merupakan penurunan impor terbesar sejak bulan Januari 2016.

Cadangan devisa China naik menjadi USD 3,091 triliun pada bulan April 2020 dari sebelumnya sebesar USD 3,06 triliun, di atas ekspektasi pasar sebesar USD 3,05 triliun. Pada bulan sebelumnya cadangan devisa China jatuh ke level terendahnya sejak bulan Oktober 2018 namun mulai berangsur naik setelah pemerintah mencabut kebijakan lock down di negara tersebut.

Indicator Caixin China General PMI naik menjadi 47.6 pada bulan April 2020 dari bulan sebelumnya sebesar 47.6. Sementara itu, Caixin China General Services naik ke level 44.4 pada bulan April 2020 setelah pada bulan sebelumnya berada pada level 43.0.

Ekonomi Amerika Serikat
Defisit neraca perdagangan AS melebar menjadi USD 44,4 miliar pada bulan Maret 2020 dari bulan sebelumnya sebesar USD 39,8 miliar. Ekspor turun 9.6% menjadi USD 187,7 miliar sementara itu untuk impor turun 6.2% menjadi USD 232,2 miliar. Defisit neraca perdagangan dengan China menyempit menjadi USD 11,83 miliar dari sebelumnya sebesar USD 16 miliar. Penurunan pada ekspor – impor merupakan yang terendah sejak November 2016, hal ini terjadi akibat adanya penyebaran Covid-19 yang membuat beberapa negara melakukan pembatasan akses.

Kredit konsumen di AS turun sebesar USD 12,1 miliar pada bulan Maret 2020 setelah bulan sebelumnya naik sebesar USD 20 miliar, ini merupakan penurunan pertama sejak bulan Agustus 2011.

Data tenaga kerja AS, pemutusan hubungan kerja yang dilakukan perusahaan di AS meningkat menjadi 671,129 pada bulan April 2020 dan merupakan jumlah tertinggi sejak pertama kali pencatatan pada Januari 1993. Jumlah total pemutusan hubungan kerja pada bulan April jauh lebih tinggi sebesar 202% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 222,288. Jumlah tersebut 15 kali lebih tinggi dari pemutusan hubungan kerja pada bulan April 2019 sebesar 40,023 kasus. Sebagian PHK dilakukan oleh perusahaan di sektor hiburan dan jasa. Sementara itu, jumlah warga AS yang mengisi tunjangan pengangguran pada minggu terakhir tanggal 2 Mei 2020 sebesar 3,169 klaim.

Tingkat pengangguran di AS meningkat 14.7% pada bulan April 2020, krisis akibat Covid-19 yang melanda AS membuat banyak warga AS kehilangan pekerjaan. Jumlah orang yang menganggur naik dari 15,9 juta menjadi 23,1 juta.

Sumber: Danareksa Research Institute