DRI: ECB > pertumbuhan ekonomi Eropa di 2020 dapat terkontraksi  5 – 12%






Minggu III Mei 2020

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap mempengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut:

 

Ekonomi Indonesia.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI7DRR) sebesar 4.5%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3.75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 5.25%. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian keuangan global, walaupun Bank Indonesia memandang masih terdapat ruang untuk penurunan suku bunga seiring rendahnya inflasi dan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Defisit transaksi berjalan Indonesia turun menjadi USD 3,92 miliar (1.4% dari PDB) pada kuartal I 2020, jauh lebih rendah jika dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai USD 8,1 miliar (2.8% dari PDB). Penurunan defisit transaksi berjalan didorong oleh penurunan impor yang sejalan dengan melambatnya permintaan domestik.

Pada tanggal 18 Mei 2020 Kementrian Keuangan melakukan konferensi pers terkait Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) menyusul diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2020 (PP 23/2020) mengenai pelaksanaan program PEN. Total dana yang yang disediakan pemerintah untuk program tersebut mencapai Rp 641,17 triliun. Sesuai PP 23/2020 PEN dapat dilakukan melalui mekanisme penempatan dana, penyertaan modal negara (PNM) dan investasi pemerintah serta belanja negara. Saat ini Kementrian Keuangan telah merampungkan dua program PEN yaitu fasilitas subsidi bunga untuk debitur perbankan serta program pemberian dukungan restrukturisasi melalui penempatan dana pada perbankan.

Dari harga komoditas, harga minyak mentah AS (WTI) turun 2.0% menjadi USD 33,25/barel pada akhir perdagangan hari Jumat tanggal 22 Mei 2020 karena adanya kekhawatiran pemulihan ekonomi setelah krisis Covid-19 di tengah kenaikan permintaan dari China. Namun, secara mingguan harga minyak mentah WTI naik 13% karena adanya optimisme terhadap kelanjutan vaksin Covid-19 dan beberapa negara yang akan mengakhiri lockdown. Sementara itu, harga Brent turun 2.6% menjadi USD 35,13/barel pada akhir perdagangan hari Jumat tanggal 22 Mei 2020, dalam minggu ini harga Brent naik 8%. Di sisi lain, harga emas naik 0.6% menjadi USD 1,735/ ons pada penutupan perdagangan hari Jumat tanggal 22 Mei 2020 setelah sempat menyentuh level tertingginya sejak bulan November 2012 sebesar USD 1,751.25/ ons. Namun, secara mingguan harga emas mengalami penurunan sebesar 0.3%.

Ekonomi Jepang
Dari ekonomi Jepang, pertumbuhan ekonomi Jepang terkontraksi -0.9% pada kuartal I 2020 setelah pada kuartal sebelumnya terkontraksi -1.9% qoq. Konsumen membatasi konsumsinya sementara perusahaan memangkas investasi, tenaga kerja dan produksi untuk tetap bertahan di tengah krisis Covid-19.

Neraca perdagangan Jepang mengalami defisit sebesar JPY 930 miliar pada bulan April 2020 setelah pada bulan yang sama tahun sebelumnya surplus sebesar JPY 59 miliar. Ekspor turun 21.9% yoy menjadi JPY 5,20 triliun sementara impor turun 7.2% menjadi JPY 6,13 triliun.

Tingkat inflasi Jepang turun menjadi 0.1% yoy pada bulan April 2020 dan merupakan level terendahnya sejak bulan November 2016 akibat pandemi Covid-19 yang menurunkan konsumsi masyarakat. Kenaikan harga terjadi pada komponen bahan makanan (+2.1% yoy) dan komponen pakaian dan alas kaki (+1.4% yoy). Sementara itu penurunan harga terjadi pada komponen transportasi (-1.2% yoy) akibat penurunan harga minyak dunia.

BoJ memutuskan untuk mempertahankan suku bunga jangka pendeknya pada level -0.1% pada pertemuan tanggal 21 Mei 2020. BoJ juga mempertahankan untuk tetap melakukan pembelian ETFs dan J-REIT.

Produksi sektor industri di Jepang turun 3.7% mom pada bulan Maret 2020, ini merupakan penurunan paling tajam dalam output sektor industri sejak Oktober 2019 akibat penyebaran Covid-19. Kontribusi terbesar pada penurunan produksi terdapat pada kendaraan bermotor (-5.1%), mesin produksi (-10%) dan bahan kimia anorganik dan organik (-10.9%).

Jibun Bank Japan Manufacturing PMI turun ke level 38.4 pada Mei 2020 setelah bulan sebelumnya berada pada level 41.9, ini merupakan kontraksi paling tajam sektor manufaktur sejak bulan Maret 2009 akibat krisis Covid-19. Sementara itu, Jibun Bank Japan Services PMI naik ke level 25.3 pada bulan Mei 2020 setelah pada bulan sebelumnya berada pada level 21.5.

Ekonomi Eropa
Surplus neraca berjalan di kawasan Eropa melebar menjadi EUR 40,66 miliar pada bulan Maret 2020 dari EUR 38,1 miliar pada bulan yang sama tahun sebelumnya. Surplus neraca perdagangan barang meningkat EUR 39,68 miliar dan defisit neraca pendapatan sekunder turun menjadi EUR 10,34 miliar. Sementara itu surplus neraca jasa menyempit menjadi EUR 3,25 miliar dan surplus pendapatan primer turun menjadi EUR 8,07 miliar.

Tingkat inflasi kawasan Eropa direvisi sedikit lebih rendah menjadi 0.3% yoy pada bulan April 2020, ini merupakan inflasi terendah sejak bulan Agustus 2016. Rendahnya inflasi kawasan Eropa didorong oleh turunnya harga energi sebesar 9.7% akibat pandemi Covid-19 dan perang harga antara Rusia dan Arab Saudi.

Indeks kepercayaan konsumen di kawasan Eropa naik 3.2 poin ke level -18.8 setelah pada bulan sebelumnya berada pada level terendah selama 11 tahun yaitu -22.

IHS Markit Manufacturing PMI kawasan Eropa naik ke level 39.5 pada bulan Mei 2020 dari bulan sebelumnya yang berada pada level 33.4. Sementara itu, IHS Markit Services PMI kawasan Eropa naik ke level 28.7 di bulan Mei 2020 setelah pada bulan sebelumnya berada pada level 12. Namun angka tersebut masih merupakan kontraksi tertajam ketiga yang tercatat sejak bulan Juni 1997 akibat kebijakan lockdown pemerintah yang menghentikan kegiatan bisnis terutama di sektor pariwisata.

ECB mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi kawasan Eropa pada tahun 2020 dapat terkontraksi antara 5 – 12%, walaupun langkah – langkah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masih berlangsung. ECB sepenuhnya siap untuk menyesuaikan kebijakannya guna mendukung perekonomian di kawasan Eropa termasuk meningkatkan ukuran PEPP (Pandemic Emergency Purchase Programme).

Dari sektor perumahan, harga rata – rata rumah baru di China naik 5.1% yoy pada bulan April 2020. Ini merupakan laju pertumbuhan harga perumahan yang terendah sejak Juni 2018 akibat penyebaran Covid- 19 yang membuat konsumen tetap berada di rumah dan tidak melakukan transaksi apapun.

 

Ekonomi Amerika Serikat (AS)

IHS Markit Manufacturing AS meningkat menjadi 39.8 pada bulan Mei 2020 setelah pada bulan sebelumnya berada pada level 36.1. Peningkatan tersebut didorong oleh kegiatan bisnis yang perlahan – lahan mulai berjalan di AS di tengah masih berlangsungnya pandemi Covid-19. Sementara itu, IHS Markit Services PMI AS juga meningkat ke level 36.9 pada bulan Mei 2020 setelah bulan sebelumnya berada pada level terendah sepanjang masa pencatatan yaitu 26.7.

Dari sektor perumahan, NAHB housing price index di AS pada bulan Mei 2020 naik ke level 37 setelah bulan sebelumnya berada di level 30 yang merupakan level terendah sejak Juni 2012. Penjualan rumah (existing home sales) di AS turun sebesar 17.8% menjadi 4,33 juta unit pada bulan April 2020 dengan rata – rata harga rumah naik 2.2% menjadi USD 286,800. Ini merupakan angka penjualan rumah terandah sejak September 2009 dan merupakan penurunan tertajam sejak Juli 2010. Sementara itu, jumlah proyek pembangunan rumah baru (housing start) di AS turun 30.2% mom menjadi 0,891 juta pada bulan April 2020. Di sisi lain, izin mendirikan bangunan di AS pada bulan April 2020 juga turun 20% mom menjadi 1,074 juta dan merupakan level terendah sejak Januari 2015.

Dari sektor tenaga kerja, jumlah warga AS yang mengisi tunjangan pengangguran turun menjadi 2,438 juta klaim dalam pekan terakhir tanggal 16 Mei 2020, ini menjadi level terendah sejak krisis Covid-19 melanda AS. Secara keseluruhan total klaim tunjangan pengangguran yang diajukan sejak tanggal 23 Maret 2020 sampai 16 Mei 2020 menjadi 38,6 juta klaim.

 

 

Minggu IV Mei 2020

Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain

USA: New home sales, house price index, durable goods orders, initial jobless claim, pending home sales, personal spending, personal income

Jepang: Leading economic index, unemployment rate, jobs/ applications ratio, retail sales, industrial production, consumer confidence, housing start

EU: Business confidence, economic sentiment, industrial sentiment, inflation rate

China: NBS manufacturing PMI
Indonesia: Danareksa Consumer Confidence Index

 

Sumber: Danareksa Research Institue

Photo by Alex Vasey on Unsplash