DRI: Indeks Kepercayaan Konsumen dan Penjualan Ritel Turun






Minggu I Oktober 2020

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar global dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap mempengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut:

PERGERAKAN PASAR DOMESTIK

  • Pada tanggal 5 Oktober 2020 DPR mengesahkan Omnibus Law RUU Cipta Kerja menjadi undang – undang. Penyusunan Omnibus Law dilakukan dalam rangka menghilangkan tumpang tindih antar UU serta meningkatkan penciptaan lapangan kerja dan pengembangan UMKM. Pada pembukaan perdagangan hari Selasa 2020 IHSG sempat menguat 1% ke level 5.012,39, pelaku pasar percaya bahwa Omnibus Law dapat meningkatkan investasi yang masuk ke Indonesia terutama di sektor manufaktur.
  • Pemulihan ekonomi Indonesia melambat seiring dengan keputusan beberapa daerah untuk memberlakukan kembali pembatasan sosial untuk menekan penyebaran Covid-19. Hal ini terlihat pada penurunan indeks kepercayaan konsumen dan penjualan ritel Indonesia.
    • Indeks Kepercayaan Konsumen Danareksa Research Institute bulan September 2020 turun ke level 73,34 setelah di bulan sebelumnya mengalami kenaikan untuk pertama kalinya selama pandemi ke level 74,00. Dua komponen utama IKK bergerak mixed, Present Situation Index (PSI) naik 1,1% mom ke level 38,8 sedangkan Expectation Index (EI) turun 1,4% mom ke level 99,3. Penurunan IKK di bulan September 2020 dipicu oleh peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia terutama di DKI Jakarta dan sulitnya lapangan pekerjaan sebagai dampak dari PHK yang terjadi di berbagai daerah serta pembatasan sosial yang kembali diterapkan.
    • Penjualan ritel di Indonesia turun 9,2% yoy pada bulan Agustus 2020 setelah di bulan sebelumnya turun 12,3% yoy. Penjualan ritel terus menunjukkan penurunan selama sembilan bulan berturut – turut meskipun dalam laju yang semakin melemah. Dampak berkepanjangan pandemi Covid-19 di Indonesia membuat mobilitas masyarakat berkurang sehingga daya beli dan permintaan melambat.
    • Cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2020 turun USD 1,8 miliar menjadi USD 135,2 miliar setelah di bulan sebelumnya berada di posisi USD 137,0 miliar. Penurunan cadangan devisa tersebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan uuntuk stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian global. Posisi cadangan devisa September setara dengan pembiayaan 9,5 bulan impor atau 9,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

 

PERGERAKAN PASAR GLOBAL

  1. Amerika Serikat
    • Perbaikan ekonomi di AS melambat. Hal ini ditunjukkan oleh melebarnya defisit neraca perdagangan dan pasar sektor tenaga kerja yang terus melambat.
      • Defisit neraca perdagangan AS melebar menjadi USD 67,1 miliar pada bulan Agustus 2020 dari sebelumnya sebesar USD 63,4 miliar. Defisit neraca perdagangan tersebut merupakan yang tertinggi sejak Agustus 2006 karena peningkatan impor hingga ke tingkat sebelum pandemi sementara itu ekspor naik meskipun lambat. Impor naik 3,2% mom menjadi USD 239 miliar yang didorong oleh pembelian produk farmasi, kendaraan, dan minyak mentah. Sementara itu, ekspor naik 2,2% mom menjadi USD 171,9 miliar yang didorong oleh meningkatnya penjualan emas dan kedelai.
      • Dari sektor tenaga kerja, jumlah lowongan pekerjaan di AS turun 204 ribu dari bulan sebelumnya menjadi 6.493 juta. Penurunan terbesar lowongan pekerjaan terdapat pada sektor swasta (-242 ribu) terutama pada sektor konstruksi dan informasi.
      • Perlambatan di pasar tenaga kerja AS masih terus berlanjut ditandai dengan peningkatan warga AS yang mengisi tunjangan pengangguran sebanyak 840 ribu klaim dalam pekan terakhir tanggal 3 Oktober 2020.
  2. Tiongkok
    • Meskipun cadangan devisa Tiongkok turun namun perbaikan perekonomian Tiongkok terus tumbuh salah satunya yang terlihat dari peningkatan PMI di sektor jasa pada bulan September 2020.
      • Caixin Sevices PMI Tiongkok pada bulan September 2020 naik menjadi 54,8 setelah di bulan sebelumnya berada pada level 54,0. Ini merupakan pertumbuhan selama lima bulan secara berturut – turut sejalan dengan usaha pemerintah untuk memulihkan perekonomian Tiongkok setelah pandemi Covid-19. Pesanan baru terus meningkat yang didorong oleh naiknya permintaan domestik, sementara itu lapangan pekerjaan di sektor jasa juga terus tumbuh seiring dengan kembali pulihnya kegiatan manufaktur dan kegiatan bisnis di Tiongkok.  
      • Cadangan devisa Tiongkok turun menjadi USD 3.143 triliun pada September 2020 dari bulan sebelumnya sebesar USD 3.165 triliun. Penurunan tersebut merupakan yang pertama kalinya sejak Maret 2020 di tengah menguatnya dolar dan aliran modal masuk yang tinggi.
  3. Eropa
    • Perekonomian kawasan Eropa menunjukkan peningkatan sebagaimana terlihat dari kenaikan perdagangan ritel di kawasan Eropa. Perdagangan ritel di kawasan Eropa naik 4,4% mom pada Agustus 2020 setelah di bulan sebelumnya turun 1,0% mom. Kenaikan pada perdagangan ritel di kawasan Eropa didorong oleh pelonggaran kegiatan ekonomi yang terus dilakukan oleh negara – negara anggota.
  4. Jepang
    • Perekonomian Jepang belum memperlihatkan perbaikannya sejak awal pandemi Covid-19 melanda di negara tersebut. Ini tercermin dari penurunan cadangan devisa, penurunan surplus transaksi berjalan, dan penurunan pada pengeluaran rumah tangga yang mengindikasikan masih lemahnya daya beli warga Jepang.
      • Cadangan devisa Jepang pada September 2020 turun menjadi USD 1.389,8 miliar dari USD 1.398,5 miliar di bulan sebelumya.
      • Surplus neraca transaksi berjalan Jepang turun menjadi JPY 2.103 miliar pada bulan Agustus 2020 dari sebelumnya sebesar JPY 2.135 miliar. Pandemi Covid-19 masih menjadi faktor pendorong penurunan pada surplus neraca transaksi berjalan Jepang.
      • Pengeluaran rumah tangga di Jepang turun 6,9% yoy pada bulan Agustus 2020 menyusul penurunan 7,6% yoy di bulan sebelumnya. Penurunan paling dalam terjadi pada pengeluaran untuk keperluan budaya dan rekreasi (-23,4% yoy) serta pengeluaran untuk pembelian pakaian (-12,5% yoy).
  5. Komoditas
    • Harga komoditas dunia secara mingguan bergerak mixed dengan harga minyak dunia ditutup turun di akhir perdagangan minggu pertama bulan Oktober, sementara itu harga emas mengalami kenaikan mingguan sebesar 1,6%.
      • Harga minyak mentah WTI pada akhir perdagangan tanggal 9 Oktober ditutup turun 1,4% ke level USD 40,6/barel, secara mingguan WTI naik sebesar 9,6%. Harga minyak mentah turun akibat berakhirnya pemogokan pekerja minyak di Norwegia setelah terjadi kesepakatan upah antara perusahaan dengan pekerja. Hal ini meningkatkan kekhawatiran investor akan adanya potensi kenaikan produksi minyak mentah meski saat Badai Delta perusahaan – perusahaan energi AS memangkas produksinya.
      • Sementara itu, harga Brent pada akhir perdagangan tanggal 9 Oktober 2020 ditutup turun 1,1% ke level USD 42,85/barel. Secara mingguan minyak mentah Brent mengalami kenaikan sebesar 9,0%.
      • Harga emas ditutup naik 1,9% ke level USD 1.929/ons pada penutupan perdagangan hari Jumat tanggal 9 Oktober 2020, secara mingguan harga emas naik sebesar 1,6%. Kenaikan harga emas secara mingguan didorong oleh melemahnya dollar di tengah opstimisme paket bantuan Covid-19 AS yang baru.

 

Minggu II Oktober 2020

Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain sebagai berikut:

  • USA: Inflation rate, PPI, initial jobless claims, retail sales, industrial production
  • Tiongkok: Trade balance, inflation rate, PPI
  • Jepang: PPI
  • EU: Trade balance
  • Indonesia: Interest rate decision, trade balance

 

Sumber: Danareksa Research Institute

Photo by Clay Banks on Unsplash