DRI: Indeks kepercayaan konsumen (IKK) November 2019 meningkat dari bulan sebelumnya






Minggu I Desember 2019

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap memengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut

Sentimen negatif mendominasi pergerakan bursa domestik dan regional minggu lalu. Tidak adanya kemajuan konkrit dalam negosiasi dagang AS-China membuat aksi jual mendominasi pasar. Di tengah minimnya pemicu positif pasar, trend melemah terlihat jelas pada kinerja indeks saham regional terutama IHSG. Kekhawatiran investor semakin memuncak, menyusul keputusan pemerintah AS yang mengesahkan undang-undang HAM dan Demokrasi Hongkong. Keputusan AS tersebut dianggap dapat menghambat tercapainya kesepakatan dagang tahap pertama dengan China.

Dari domestik, indeks kepercayaan konsumen (IKK) terbitan Danareksa tercatat mencapai level 98,8 di bulan November 2019, atau sedikit meningkat dari level 97,7 di bulan sebelumnya. Keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, dan lapangan kerja mengalami kenaikan, seiring meredanya kekhawatiran konsumen atas naiknya harga bahan makanan, dan LPG di sejumlah daerah. lndeks rencana pembelian konsumen bergerak stabil ke level 204,6 (+10,9% yoy). Senada dengan IKK, indeks kepercayaan konsumen terhadap pemerintah (IKKP) juga terkerek ke level 114,9 (+0,7% mom), menyusul penurunan 0,9% di bulan sebelumnya. Mayoritas rumah tangga optimis terhadap kemampuan pemerintah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

Dari ekonomi Jepang, indikator ekonomi saat ini-CEI naik dari level 99,0 ke level 101,1, atau tertinggi dalam 4 buIan terakhir. Sedangkan indikator prospek ekonomi Jepang-LEI bertahan di level 91,9, atau level terendah sejak November 2009. Dampak perang dagang yang berkepanjangan dan turunnya keyakinan konsumen domestik membawa prospek ekonomi Jepang tumbuh lesu.

Penjualan retail Jepang menurun 7,1% yoy (vs -4,4% yoy konsensus) di buIan Oktober. Sempat melonjak 9,2% di bulan sebelumnya, belanja konsumen menurun setelah pajak penjualan baru berlaku. Koreksi penjualan terjadi pada kelompok produk konsumen umum, dan kendaraan bermotor. Efektif 1 Oktober 2019, pajak penjualan di Jepang meningkat dari 8% menjadi 10%, dalam upaya mengatasi masalah utang pemerintah yang tinggi. Kenaikan ini dikhawatirkan membuat ekonomi Jepang tertekan akibat melambatnya pertumbuhan mesin utama­ konsumsi rumah tangga, ditengah lesunya ekspor dan produksi manufaktur.

Output industri Jepang di buIan Oktober menurun 4,2% mom (vs -2,1% mom), menyusul kenaikan 1,7% mom di bulan sebelumnya. Secara tahunan, output industri tercatat 7,4% lebih rendah (vs+1,3% yoy bulan sebelumnya). Penurunan output produksi terjadi pada produk mesin, kendaraan bermotor.

lndeks kepercayaan konsumen Jepang naik ke level 38,7 di bulan November 2019 dari level 36,2 di bulan sebelumnya, dan lebih tinggi dari ekspektasi pasar 35,4. Penilaian konsumen terhadap kondisi ekonomi, didorong meningkatnya rencana pembelian barang tahan lama, pertumbuhan pendapatan, dan serapan tenaga kerja.

Dari ekonomi China, indikator manufaktur-NBS Manufacturing PMI resmi terbitan pemerintah di bulan November 2019 tercatat naik signifikan ke level 50,2 dari bulan sebelumnya, 49,3. Level PMI November menjadi indikasi ekspansi manufaktur China pertama sejak April 2019, didorong pertumbuhan order baru dan aktivitas pembelian pabrikan. Sedangkan penjualan ekspor dan serapan tenaga kerja masih menurun.

Ekonomi China yang melambat memengaruhi kinerja keuangan industri besar. Laba yang diperoleh perusahaan industri besar sepanjang 10 buIan terakhir turun 2,9% yoy menjadi CNY 5,02 triliun (vs -2,1% yoy periode Jan­ Sept’19). Tercatat sebanyak 11 sektor melaporkan penurunan laba, dari 41 industri yang disurvei.

Dari sisi ekonomi AS, GDP AS Q3 2019 (2nd estimate) tumbuh 2,1% yoy, melambat dibandingkan Q2 2019 (+2,3% yoy) dan Q3 2018 (+3,1% yoy). Perbandingan dengan kinerja Q3 2018, pertumbuhan belanja rumah tangga (+2,5% yoy), investasi (+0,6% yoy), ekspor (+0,2% yoy), dan impor (+0,9% yoy) melambat, sedangkan kinerja belanja pemerintah tercatat tumbuh flat (+2,2% yoy). Di sektor konsumen, belanja konsumen bulan Oktober 2019 tumbuh 0,3% mom, lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 0,2% mom, dan sejalan dengan ekspektasi pasar. Sedangkan untuk pendapatan personal, cenderung tidak mengalami pertumbuhan (vs 0,3% mom ekspektasi).

Indeks kepercayaan konsumen (IKK) terbitan The Conference Board bulan November 2019 turun ke level 125,5 dari level Oktober 126,1. Optimisme rumah tangga terhadap kondisi bisnis dan lapangan kerja saat ini menurun, namun mereka tetap meyakini prospek ekonomi AS yang lebih baik dalam jangka pendek. Di sektor perumahan, penjualan rumah tapak baru di AS turun 0,7% mom menjadi 733 ribu unit (SA annual rate) di buIan Oktober 2019, menyusul pertumbuhan 4,5% di bulan sebelumnya.

Pada sisi kinerja perdagangan luar negeri, defisit neraca dagang AS di bulan Oktober mencapai USD 66,5 miliar (vs defisit USD 71,3 miliar konsensus), menyempit dari defisit bulan sebelumnya sebesar USD 70,5 miliar. Nilai ekspor AS mencapai USD 135,3 miliar (-0,66% mom) dan impor tercatat sebesar USD 201,8 miliar (-2,42% mom).

Di sektor manufaktur AS, pesanan barang tahan lama (durable goods orders) yang diterima pabrikan AS tumbuh 0,6% mom (vs -0,8% mom konsensus) di bulan Oktober 2019, menyusul penurunan 1,4% mom di bulan sebelumnya. Kenaikan permintaan terjadi pada kelompok produk perlengkapan transportasi, produk metal, komputer dan elektronik, serta mesin.

Di sektor tenaga kerja AS, klaim tunjangan pengangguran mingguan (per 23 November 2019) menurun 15 ribu aplikasi menjadi 213 ribu aplikasi. Rerata 4 mingguannya mencapai 219.750 aplikasi, atau lebih rendah 1.500 aplikasi.

 

 

Minggu II Desember 2019

Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain

USA: ISM Manufacturing PMI, ADP employment report, average hourly earnings, klaim tunjangan pengangguran mingguan, factory orders
Jepang: GDP Q3 2019, neraca perdagangan
China: Caixin PMI, neraca perdagangan
EU: Markit PMI, penjualan retail, GDP Q3 2019
Indonesia: Laju inflasi, cadangan devisa

 

Sumber: Danareksa Research Institute
Photo by Uray Zulfikar on Unsplash