[DRI M1-Nov-2019] BPS : Laju inflasi Oktober 2019 mencapai 0,02% mom






Minggu 1 November 2019

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap memengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut

Minggu lalu, rilis laporan keuangan kuartalan (earnings season) emiten masih menjadi tema sentral pergerakan pasar domestik dan regional. Di samping itu, para pelaku pasar mencermati perkembangan terbaru kebijakan moneter sejumlah bank sentral, indikator manufaktur PMI negara partner, dan data GDP serta ketenagakerjaan AS. Perkembangan terkini Brexit menunjukkan bahwa lnggris akan mengadakan pemilu di bulan Desember untuk pertama kalinya sejak 1923 dalam upaya untuk memecahkan kebuntuan Brexit. Anggota parlemen dari berbagai partai sepakat untuk mengadakan jajak pendapat nasional pada 12 Desember 2019. Terkait perang dagang AS­ China, Departemen Perdagangan AS menyatakan akan mempertimbangkan perpanjangan pengecualian implementasi tarif impor dari China untuk sejumlah barang senilai USD 34 miliar. Rencana ini menambah sinyal positif tercapainya kesepakatan dagang tahap pertama di antara kedua negara.

Dari domestik, BPS mengumumkan laju inflasi Oktober yang tercatat mencapai 0,02% mom, atau secara tahunan stabil di level 3,13% yoy. Tekanan inflasi bulanan ini lebih rendah dari konsensus pasar sebesar 0,17% mom, didorong turunnya harga kelompok bahan makanan dan transportasi, akselerasi harga kelompok makanan jadi, serta melambatnya kenaikan komponen inflasi yang lain.

Indikator manufaktur-lHS Markit PMI di buIan Oktober 2019 turun ke level 47,7 dari level 49,1 di buIan sebelumnya. Level PMI berada di bawah level 50 dalam 4 bulan terakhir, menandakan kontraksi manufaktur Indonesia masih terjadi, menyusul turunnya order baru, penjualan ekspor, dan serapan tenaga kerja industri.

Dari ekonomi China, indikator manufaktur PMI terbitan pemerintah anjlok ke level 49,3 di buIan Oktober dari level 49,8 di bulan sebelumnya. Level PMI di bawah 50 telah bertahan selama 6 bulan terakhir, yang menandakan kontraksi sektor manufaktur, seiring melemahnya order baru, permintaan ekspor dan serapan tenaga kerja. Hal senada juga terlihat pada indikator non manufaktur PMI yang turun dari level 53,7 ke level 52,8. Melambatnya aktivitas sektor jasa juga didorong lesunya order baru yang diterima perusahaan, permintaan ekspor baru, dan serapan tenaga kerja.

Indikator manufaktur China lainnya-Caixin Manufacturing PMI meningkat di bulan Oktober 2019 ke level 51,7 dari level 51,4. Ekspansi manufaktur menengah China didorong membaiknya order baru yang diterima pabrikan, dan permintaan ekspor yang pulih.

Di sisi ekonomi Jepang, indikator Jibun Bank Manufacturing PMI menurun dari level 48,9 ke level 48,4 di bulan Oktober 2019. Kontraksi sektor manufaktur Jepang yang bertahan selama 6 bulan terakhir, disebabkan menurunnya permintaan ekspor baru, order baru dan output produksi perusahaan.

Output industri Jepang meningkat 1,4% mom di bulan September, menyusul penurunan 1,2% mom di bulan sebelumnya. Output produksi meningkat pada kelompok produk mesin produksi, perlengkapan transportasi dan mesin listrik.

Indeks keyakinan konsumen Jepang di bulan Oktober bergerak membaik, dengan naik ke level 36,2 dari level 35,6 di bulan September. Membaiknya kepercayaan konsumen ini didorong naiknya rencana pembelian barang tahan lama, lapangan kerja, dan pertumbuhan pendapatan.

Di sektor moneter, Bank of Japan (BOJ) mempertahankan bunga acuan jangka pendek pada level minus 0,1 persen pada pertemuan Oktober 2019. BOJ menahan target yields untuk obligasi pemerintah 10 tahun di kisaran nol persen. Nilai pembelian obligasi pemerintah diperkirakan stabil sebesar 80 triliun yen setahun, serta pembelian aset ETFs dan Japan REITs meningkat menjadi 6 triliun Yen dan 90 miliar Yen setahun.

Dari ekonomi AS, GDP AS Q3 2019 tumbuh 2,0% yoy, melambat dibandingkan Q2 2019 (+2,3% yoy) dan Q3 2018 (+3,1 % yoy). Perbandingan dengan kinerja Q3 2019, pertumbuhan belanja rumah tangga (+2,5% yoy), investasi (+0,2% yoy), ekspor (+0,1% yoy), dan impor (+0,8% yoy) melambat, sedangkan kinerja belanja pemerintah tercatat membaik (+2,3% yoy).

The Fed menurunkan tingkat bunga acuan FFR sebesar 25 bps menjadi 1,50-1,75 persen pada pertemuan Oktober 2019. Pemangkasan ketiga ini mempertimbangkan laju inflasi yang stagnan dan prospek ekonomi AS ke depan. The Fed juga memberikan sinyal bahwa penurunan kali ini menjadi yang terakhir ditahun ini.

Indeks keyakinan konsumen AS terbitan The Conference Board bulan Oktober menurun ke level 125,9 dari level sebelumnya 126,3. Penurunan ini didorong kekhawatiran konsumen AS terhadap prospek bisnis dan lapangan kerja di masa datang.

Pertumbuhan pendapatan personal (personal income) masyarakat AS melambat dari 0,5% mom menjadi 0,3% mom di bulan September 2019. Sementara belanja personal (personal spending) cenderung tumbuh stagnan sebesar 0,2% mom.

Di sektor tenaga kerja, klaim tunjangan pengangguran AS (per 26 Oktober 2019) naik 5 ribu aplikasi menjadi 218
ribu aplikasi. Rerata 4 mingguannya menurun 500 aplikasi menjadi 214.750 aplikasi.

ADP National Employment Report memperlihatkan serapan tenaga kerja swasta AS di bulan September mencapai 125 ribu posisi (vs 93 ribu posisi Agustus 2019). Sektor jasa menyerap tambahan tenaga kerja hingga 138 ribu posisi, sementara sektor manufaktur mengurangi 13 ribu posisi tenaga kerja.

Serapan tenaga kerja AS non pertanian (nonfarm payrolls) di bulan Oktober naik 128 ribu posisi (vs 89 ribu posisi ekspektasi), menyusul tambahan 180 ribu posisi di bulan sebelumnya. Kenaikan serapan tenaga kerja terjadi pada sektor jasa makanan dan minuman, bantuan sosial, dan jasa keuangan. Sedangkan sektor manufaktur tercatat masih menurun. Rerata pendapatan per jam yang diperoleh tenaga kerja meningkat 0,2% mom, setelah flat di bulan sebelumnya. Tingkat pengangguran Oktober naik dari 3,5 persen menjadi 3,6 persen.

Indikator ISM Manufacturing PMI bergerak membaik di bulan Oktober ke level 48,3 dari level 47,8 di bulan September. Aktivitas manufaktur AS mulai menunjukkan perbaikan meski masih berkontraksi, didorong pulihnya order baru yang diterima pabrikan, permintaan ekspor baru, dan serapan tenaga kerja.

Pada sektor perumahan AS, kontrak penjualan rumah (pending home sales) naik 3,9% yoy di bulan September
2019, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 1,4%. Kenaikan ini ditopang bunga KPR yang relatif rendah.

 

Minggu II November 2019
Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain:
USA: Durable goods orders, factory orders, JOLTS job openings, klaim tunjangan pengangguran mingguan
Jepang: Core machinery orders, LEI, CEI
EU: Markit PMI, penjualan retail
China: Ekspor-impor, laju inflasi, money supply
Indonesia: GDP Q3 2019, cadangan devisa, BOP

 

Source: Danareksa Research Institute
Photo by Shot by Cerqueira on Unsplash