DRI M4-Okt-2019: Kemajuan negosiasi Brexit menjadi salah satu penggerak utama mayoritas pasar






Minggu IV Oktober 2019

  • Minggu lalu, rilis kinerja perdagangan luar negeri, laju inflasi, dan output industri (baik domestik maupun negara partner), pertumbuhan ekonomi China, serta kemajuan negosiasi Brexit menjadi penggerak utama mayoritas pasar. Rilis ekonomi ini melengkapi aksi investor yang menantikan publikasi laporan keuangan emiten kuartalan.
  • Dari domestik, BPS merilis kinerja perdagangan luar negeri Indonesia di bulan September 2019. Nilai ekspor Indonesia turun 1,3% mom mencapai USD 14,1 miliar, dan impor tercatat naik 0,6% mom menjadi USD 14,3 miliar. Kenaikan impor diatas ekspor membawa neraca dagang September kembali defisit USD 160,5 juta, lebih rendah dari surplus USD 112,4 juta di bulan sebelumnya, dan meleset dari konsensus pasar sebesar surplus USD 124 juta.
  • Dari ekonomi Jepang, harga barang dan jasa di tingkat konsumen Jepang tidak mengalami perubahan secara bulanan (+0,0% mom) pada September 2019. Secara tahunan, laju inflasi melambat dari 0,3% yoy menjadi 0,2% yoy, atau level terendah dalam 7 buIan. Harga komponen makanan meningkat pesat, sementara penurunan harga komponen non makanan terus berlanjut.
  • Dari ekonomi China, pertumbuhan ekonomi China Q3 2019 melambat menjadi 6,0% yoy (vs 6,1% konsensus), dari 6,2% di kuartal sebelumnya. Capaian ini menjadi yang terendah sejak Q1 1992, seiring lesunya permintaan global, dan dampak perang dagang dengan AS. Di sektor industri, output industri bulan September tumbuh 5,8% yoy, lebih tinggi dari pertumbuhan 4,4% di bulan sebelumnya. Output sektor manufaktur dan pertambangan meningkat, sementara sektor utilitas relatif stabil. lnvestasi aset tetap tumbuh 5,4% menjadi CNY 46,12 triliun pada periode Jan-Sept 2019, pasca tumbuh 5,5% pada periode sebelumnya. Selanjutnya di sektor retail, penjualan retail September naik 7,8% yoy, menyusul kenaikan 7,5% yoy di bulan sebelumnya. Belanja retail meningkat untuk kelompok produk kosmetik, perlengkapan rumah tangga, furnitur, dan alat telekomunikasi.
  • Kinerja perdagangan luar negeri China di bulan September 2019 meleset dari ekspektasi pasar. Nilai ekspor (- 3,2% yoy vs -3,0% konsensus) dan impor (-8,5% yoy vs -5,2% konsensus) China, masing-masing mencapai USD 218,12 miliar dan USD 178.47 miliar. Hal ini membawa surplus perdagangan melebar dari USD 30,26 miliar menjadi USD 39,65 miliar (vs USD 33,3 miliar konsensus).
  • Laju inflasi bulanan China mencapai 0,9% mom pada September 2019, menyusul kenaikan 0,7% mom di bulan sebelumnya. Secara tahunan, tekanan inflasi meningkat dari 2,8% yoy menjadi 3,0% yoy, seiring melonjaknya harga komponen makanan (+11,2%). Sementara harga komponen non makanan naik pada tingkat yang lebih rendah (+0,2%).
  • Dari ekonomi Eropa, laju inflasi bulanan mencapai 0,2% mom pada September 2019, menyusul kenaikan 0,1% mom di bulan sebelumnya. Harga komponen energi menurun, sementara harga komponen makanan naik lebih lambat. Hal ini membawa tingkat inflasi tahunan kawasan Eropa melambat dari 1,0 persen menjadi 0,8 persen.
  • Output industri EU meningkat 0,4% mom di bulan Agustus 2019, pasca turun 0,4% mom di bulan sebelumnya. Output produksi untuk produk antara dan barang modal meningkat, sementara menurun pada produk energi, dan barang konsumsi tahan lama. Secara tahunan, output industri EU masih berkontraksi 2,8% yoy, menyusul penurunan 2,1% yoy di buIan sebelumnya, atau menjadi penurunan berturut-turut dalam 10 buIan terakhir.
  • Dari ekonomi AS, indikator ekonomi saat ini-CEI flat di level 106,4, sementara indikator prospek ekonomi-LEI menurun 0,1% ke level 111,9 pada bulan September 2019. Perkembangan ini menunjukkan ekonomi AS saat ini dan prospeknya tumbuh melambat seiring dampak perang dagang. Ketidakpastian yang menekan ekspektasi bisnis membawa sektor industri terutama manufaktur menurun.
  • Penjualan retail AS turun 0,3% mom di bulan September 2019, pasca kenaikan 0,6% mom di bulan sebelumnya. Penurunan bulanan pertama sejak Februari lalu, disebabkan lesunya penjualan kendaraan bermotor, bahan bangunan, dan belanja online. Secara tahunan, penjualan retail AS tumbuh melambat dari 4,4% yoy menjadi 4,1% yoy.
  • Di sektor perumahan AS, indikator NAHB Housing Market Index bulan Oktober naik dari level 68 ke level 71, atau level tertinggi sejak Februari 2018. Keyakinan pebisnis dan pengembang real estat AS membaik, seiring naiknya optimisme penjualan rumah tinggal saat ini dan ekspektasi meningkatnya calon pembeli prospektif di masa datang. lndikator izin mendirikan bangunan (building permits) turun sebesar 2,7% mom (vs-26% mom konsensus) menjadi 1,387 juta unit (SA annual rate). Perizinan untuk segmen rumah tapak meningkat, sementara untuk apartemen tercatat lebih rendah. Sementara untuk pembangunan rumah baru (housing starts) menurun 9,4% mom menjadi 1,256 juta unit (SA annual rate), atau dibawah ekspektasi pasar sebesar 1,320 juta unit. Pembangunan rumah tapak menanjak, sedangkan menurun untuk apartemen.
  • Klaim tunjangan pengangguran mingguan (per 12 Oktober 2019) meningkat sebanyak 12 ribu aplikasi menjadi 214 ribu aplikasi. Rerata 4 mingguannya naik seribu aplikasi menjadi 214.750 aplikasi dari minggu sebelumnya. Di sektor industri, output industri AS turun 0,4% mom di buIan September, menyusul kenaikan 0,8% mom di bulan sebelumnya. Sektor manufaktur dan pertambangan mencatat penurunan output, sementara sektor utilitas masih meningkat.

 

Minggu V Oktober 2019. Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain

  • USA: Existing home sales, durable goods order, new home sales, Markit US PMI, klaim tunjangan pengangguran mingguan
  • Jepang: Ekspor-impor, Jibun Bank PMI
  • EU: lndeks keyakinan konsumen, Markit EU PMI, ECB benchmark rate
  • China: Loan prime rate
  • Indonesia: Bank Indonesia 7DRR

 

 

All rights reserved. No part of this publication may be reproduced, stored in retrieval systems, or transmitted, in any form or by any means, electronic, mechanical, photocopying, recording, or otherwise, without the prior written permission of Danareksa Research Institute.