DRI M5-Okt-2019: Kebijakan moneter sejumlah bank sentral turut memengaruhi kinerja pasar.






Minggu V Oktober 2019

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap memengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut

Minggu lalu, musim rilis laporan keuangan kuartalan (earnings season) emiten menjadi penggerak utama bursa domestik dan regional. Di sisi ekonomi, publikasi indikator perkembangan dini manufaktur-flash PMI, dan kebijakan moneter sejumlah bank sentral turut memengaruhi kinerja pasar. Para pelaku pasar juga mencermati perkembangan negosiasi AS-China dan Brexit. Penandatangan kesepakatan dagang tahap pertama AS-China diharapkan terjadi pada pertemuan APEC pertengahan November mendatang. Sedangkan penolakan parlemen lnggris atas proposal Brexit yang diajukan pemerintah, membuat ketidakpastian meningkat. Perpanjangan deadline Brexit dan pemilu lnggris menjadi kemungkinan lanjutan atas perkembangan ini.

Dari domestik, Bank Indonesia pada RDG Oktober 2019 memangkas kembali bunga acuan-7DRR sebesar 25 bps menjadi 5,00%, dengan bunga deposit facility dan lending facility turun masing-masing menjadi 4,25% dan 5,75%. Kebijakan ini ditempuh dengan pertimbangan prospek inflasi yang terkendali, imbal hasil keuangan domestik yang tetap menarik, dan upaya antisipasi untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik ditengah ekonomi global yang melambat.

Dari ekonomi Jepang, ekspor dan impor di bulan September 2019 masing-masing menurun -5,2% yoy (vs -4,0 % konsensus) dan -1,5% yoy (vs -2,8% yoy konsensus) menjadi JPY 6,37 triliun dan JPY 6,49 triliun. Perkembangan ini membawa neraca perdagangan Jepang berubah menjadi defisit JPY 123 miliar, dari sebelumnya surplus JPY 124,1 miliar di bulan Agustus. Lesunya permintaan global dan dampak perang dagang AS-China berdampak pada penurunan ekspor Jepang selama 10 buIan berturut-turut.

Indikator dini manufaktur-Jibun Bank Manufacturing PMI turun ke level 48,5 di bulan Oktober, dari level final September 48,9. Kontraksi sektor manufaktur Jepang disebabkan lesunya permintaan ekspor, menurunnya order baru dan output produksi.

Dari ekonomi China, otoritas moneter China mempertahankan tingkat bunga pinjaman-/oan prime rate (LPR) 1 tahun pada level 4,20% di bulan Oktober, menyusul pemangkasan 0,05% di bulan sebelumnya. Sementara untuk LPR 5 tahun juga bertahan pada level 4,85%.

Dari ekonomi Eropa, indikator manufaktur dini-lHS Markit PMI stabil pada level 45,7 di bulan Oktober 2019. Kontraksi sektor manufaktur Eropa masih terjadi menyusul penurunan pada penerimaan order baru, ekspor, dan output produksi.

Bank sentral Eropa-ECB mempertahankan kebijakan bunga acuan yang saat ini berlaku. Bunga acuan-refinancing rate, marginal lending facility dan deposit rate ditahan masing-masing pada level O persen, 0,25 persen dan -0,5 persen. Kebijakan ini diperkirakan masih akan berjalan hingga laju inflasi aktual mendekati target sebesar 2 persen dalam jangka menengah. ECB juga melakukan kebijakan pembelian aset dan surat berharga-Governing Council’s asset purchase programme (APP), sebesar 20 miliar Euro per bulan, yang dimulai pada 1 November 2019.

Dari ekonomi AS, penjualan stok rumah (existing home sales) turun 2,2% mom menjadi 5,38 juta unit di bulan September 2019 (vs 5,45 juta ekspektasi pasar). Penjualan rumah tapak mengalami penurunan, sementara untuk kondominium meningkat. Sementara, penjualan rumah tapak baru (new home sales) di AS sedikit menurun 0,7% mom (+15,5% yoy) di bulan September 2019 menjadi 701 ribu unit (SA annual rate), atau sejalan dengan ekspektasi pasar. Median harga rumah baru turun 8,8% yoy menjadi USD 299,4 ribu.

Indikator manufaktur AS dini-lHS Markit Manufacturing PMI bulan Oktober naik ke level 51,5 dari level final PMI September 51,1. Perkembangan ini menjadi kenaikan moderat manufaktur AS dalam 6 bulan terakhir, didorong akselerasi pertumbuhan output, order baru dan serapan tenaga kerja.

Pesanan barang tahan lama yang diterima pabrikan AS (durable goods orde,)turun 1,1% mom (vs -0,8% mom konsensus) di buIan September 2019, menyusul kenaikan 0,3% mom di buIan sebelumnya. Hal ini terkait dengan turunnya permintaan produk perlengkapan transportasi, produk metal, elektronik dan komputer.

Klaim tunjangan pengangguran mingguan AS (per 19 Oktober 2019) turun sebanyak 6 ribu aplikasi menjadi 212 ribu aplikasi. Rerata 4 mingguannya mencapai 215 ribu aplikasi, sedikit menurun 750 aplikasi dari minggu sebelumnya.

Minggu I November 2019

Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain

USA: lndeks kepercayaan konsumen Conference Board, pending home sales, ADP employment change, GDP Q3 2019, PCE Index, FOMC meeting, personal income and spending, ISM Manufacturing PMI, klaim tunjangan pengangguran mingguan, tingkat pengangguran, factory orders.
Jepang: Industrial production, Jibun Bank PMI, indeks kepercayaan konsumen,
EU: Business climate, GDP Q3 2019, laju inflasi, Markit PMI
China: Manufacturing PMI, Caixin PMI
Indonesia: lndeks kepercayaan konsumen Danareksa, laju inflasi Oktober 2019, Markit PMI