DRI: Pemulihan Bergerak Melambat, Indonesia Kembali Alami Deflasi






Minggu V September 2020

  

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar global dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap mempengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut:

PERGERAKAN PASAR DOMESTIK

  1. Pemulihan ekonomi Indonesia bergerak melambat akibat kenaikan kasus positif Covid-19 dan pemberlakukan kembali kebijakan pembatasan sosial berskala besar di beberapa daerah. Hal ini terlihat dari penurunan PMI bulan September dan deflasi yang masih terjadi selama tiga bulan berturut – turut.
    • PMI Manufacturing Indonesia turun ke level 47,2 setelah di bulan sebelumnya berhasil tumbuh di level 50,8 (di atas level 50). Penurunan pada PMI Indonesia dipicu oleh pemberlakukan kembali pembatasan sosial di beberapa daerah terutama DKI Jakarta. Akibatnya perusahaan harus mengurangi kapasitas produksi dan biaya tambahan seiring dengan penurunan pada permintaan dan investasi.
    • Indonesia kembali mengalami deflasi pada bulan September 2020 sebesar -0,05% mom (+1,42% yoy), setelah di bulan Juli dan Agustus 2020 terjadi deflasi masing – masing sebesar -0,10% mom dan -0,05% mom. Deflasi selama tiga bulan berturut – turut tersebut menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih rendah di tengah distribusi program perlindungan sosial yang dilakukan pemerintah. Deflasi September 2020 masih didorong oleh penurunan harga komponen bahan makanan, minuman dan tembakau (-0,37% mom) dan penurunan harga komponen transportasi terutama tarif angkuran udara (-0,33% mom).
    • Dari sektor pariwisata, kedatangan turis asing ke Indonesia kembali turun sebesar 89,22% yoy menjadi 164.970 ribu pada bulan Agustus 2020. Hal ini didorong oleh beberapa negara yang masih menerapkan pembatasan perjalan ke luar negeri akibat penyebaran Covid-19 secara global yang masih masif.

 

PERGERAKAN PASAR GLOBAL

Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait konfirmasi bahwa dirinya positif Covid-19 pada tanggal 2 September 2020 menjadi sentimen negatif untuk bursa saham global dan IHSG. Indeks Dow Jones ditutup melemah 0,48% menjadi 27.683, indeks S&P 500 juga melemah 0,95% ke level 3.348 dan Nasdaq ditutup turun 2,22% ke 11.075. Dari bursa Asia, indeks Nikkei Jepang turun 0,66% menjadi 23.030 begitu juga dengan IHSG yang melemah 0,87% ke level 4.926,73.

  1. Amerika Serikat
    • Perbaikan ekonomi di AS berlanjut meskipun lambat. Hal ini ditunjukkan oleh meningkatnya daya beli masyarakat, peningkatan penjualan rumah, dan penurunan tingkat pengangguran.
      • Pengeluaran pribadi di AS naik 1% mom pada Agustus 2020 di tengah pendapatan pribadi yang turun pada bulan yang sama sebesar 2,7% mom. Peningkatan pengeluaran masyarakat terutama didominasi oleh pembelian makanan, akomodasi serta kesehatan. Sementara itu, penurunan pendapatan pribadi pada bulan Agustus 2020 merupakan penurunan pendapatan pribadi terbesar ketiga setelah April 2020 sebagai akibat penurunan tunjangan pengangguran yang dilakukan oleh pemerintah.
      • Dari sektor perumahan, pending home sales (jumlah rumah yang terjual tetapi masih menunggu proses transaksi) naik 24,4% yoy pada bulan Agustus 2020 menyusul kenaikan 15,5% di bulan Juli 2020. Hal ini didorong oleh suku bunga yang rendah sebagai salah satu kebijakan pemerintah untuk mendorong pemulihan ekonomi di AS.
      • Dari sektor tenaga kerja, lapangan pekerjaan non pertanian di AS bertambah sebesar 661 ribu pekerjaan di bulan September 2020 yang didominasi oleh lapangan pekerjaan di sektor perhotelan dan perdagangan. Hal ini sejalan dengan penurunan tingkat pengangguran di AS menjadi 7,9% di bulan September 2020 dari sebelumnya sebesar 8,2%. Hal tersebut memperlihatkan bahwa pasar tenaga kerja di AS mulai pulih meskipun lebih lambat dari yang diperkirakan.
      • Lambatnya pemulihan pasar tenaga kerja didukung oleh peningkatan warga AS yang mengisi tunjangan pengangguran sebanyak 837 ribu klaim dalam pekan terakhir tanggal 26 September 2020. Penambahan claim ini juga sebagai akibat berkurangnya dukungan pemerintah dan peningkatan penyebaran Covid-19 pada gelombang kedua.
  2. Tiongkok
    • Perekonomian Tiongkok terus menunjukkan pemulihan pasca pandemi Covid-19 terutama di sektor manufaktur. Sektor manufaktur Tiongkok terus tumbuh di atas level 50 yang ditandai dengan meningkatnya PMI Manufacturing hingga ke level 53,00 (versi Caixing Manufacturing PMI) pada bulan September 2020.
      • Caixin Manufacturing PMI Tiongkok bulan September 2020 berada pada level di atas 50 yaitu sebesar 53,00, sedikit menurun jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang berada pada level 53,10 yang menandakan aktivitas manufaktur di Tiongkok masih terus berjalan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada pesanan baru dan ekspor yang didorong oleh peningkatan permintaan domestik dan global. Sementara itu, hal senada juga diungkapkan oleh data PMI dari NBS yang mencatat bahwa PMI Manufacturing Tiongkok bulan September 2020 yang berada pada level di atas 50 yaitu 51,5, sedikit meningkat setelah bulan sebelumnya berada di level 51. Pertumbuhan sektor manufaktur tercatat telah berlangsung selama tujuh bulan berturut – turut sejak Maret 2020.
  3. Eropa
    • Perekonomian kawasan Eropa bergerak mixed, hal ini terlihat dari indikator sentimen ekonomi dan indikator sentimen industri yang bergerak naik namun dari sisi sektor tenaga kerja masih melambat yang ditandai dengan naiknya tingkat pengangguran.
      • Indikator sentimen ekonomi kawasan Eropa naik 3,6 poin menjadi 91,1 di bulan September 2020 setelah pada beberapa bulan terakhir sempat berada di level terendahnya selama 11 tahun akibat pandemi Covid-19. Sementara itu, indikator sentimen industri kawasan Eropa juga naik 0,7 poin ke level -11,1 pada September 2020 namun tetap berada di bawah level sebelum adanya pandemi Covid-19.
      • Industrial Producer Price (PPI) kawasan Eropa naik tipis 0,1% mom pada bulan Agustus 2020 terutama didorong oleh naiknya harga energi dan harga barang setengah jadi.
      • Dari sektor tenaga kerja, tingkat pengangguran di kawasan Eropa naik 8,1% pada bulan Agustus 2020 dari bulan sebelumnya sebesar 8%. Tingkat pengangguran tersebut merupakan yang tertinggi sejak Juli 2018. Jumlah pengangguran naik 215 ribu menjadi 13,188 juta orang pada Agustus 2020 yang didorong oleh beberapa negara masih memberlakukan kebijakan pembatasan untuk menekan penyebaran Covid-19. Hal ini menunjukkan bahwa sektor tenaga kerja di kawasan Eropa masih membutuhkan waktu untuk pulih di tengah adanya dukungan kebijakan pemerintah untuk sektor tenaga kerja.
  4. Jepang
    • Perekonomian Jepang belum memperlihatkan perbaikannya sejak awal pandemi Covid-19 melanda di negara tersebut. Ini tercermin dari penurunan pada penjualan ritel, naiknya tingkat pengangguran, dan perlambatan di sektor perumahan yang masih berlangsung.
      • Indeks keyakinan konsumen Jepang meningkat ke level 32,7 pada September 2020 dan menjadi level tertinggi sejak Februari 2020.
      • Penjualan ritel Jepang pada Agustus 2020 turun 1,9% yoy menyusul penurunan 2,9% yoy pada bulan sebelumnya. Jepang mengalami dampak berkepanjangan krisis Covid-19 yang terlihat dari penurunan pada penjualan ritel selama enam bulan berturut – turut sejak Maret 2020.
      • Dari sektor tenaga kerja, tingkat pengangguran Jepang naik tipis sebesar 3,0% pada Agustus 2020 jika dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,9%. Sementara itu, job to applications ratio Jepang juga turun menjadi 1,04% pada bulan Agustus 2020 dari bulan sebelumnya sebesar 1,08%.
      • Dari sektor perumahan, housing start (jumlah rumah yang mulai dibangun) di Jepang turun 1,9% yoy pada bulan Agustus 2020. Hal ini menunjukkan bahwa sektor perumahan Jepang masih terus tumbuh melambat akibat pandemi Covid-19.
  5. Komoditas
    • Harga komoditas dunia secara mingguan bergerak mixed dengan harga minyak dunia kompak ditutup turun di akhir perdagangan minggu kelima bulan September, sementara itu harga emas mengalami kenaikan mingguan sebesar 2%.
      • Harga minyak mentah WTI pada akhir perdagangan tanggal 2 Oktober ditutup turun 4,5% ke level USD 37/barel yang dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terhadap pemulihan permintaan bahan bakar akibat kembali terjadi lonjakan infeksi Covid-19 secara global sehingga membuat beberapa negara memberlakukan kembali pembatasan kegiatan. Selain itu kekhawatiran investor juga meningkat terkait dengan hasil pemilihan presiden AS setelah Donald Trump terkonfirmasi Covid-19.
      • Sementara itu, harga Brent pada akhir perdagangan tanggal 2 Oktober 2020 ditutup turun 4,5% ke level USD 39,1/barel. Secara mingguan minyak mentah Brent mengalami penurunan sebesar 6,8%. Penurunan harga Brent didorong kekhawatiran investor dengan hasil pemilihan presiden AS serta pemulihan permintaan bahan bakar.
      • Harga emas ditutup turun ke level USD 1.900/ons pada penutupan perdagangan hari Jumat tanggal 2 Oktober 2020, meskipun di akhir perdagangan ditutup turun namun secara mingguan harga emas naik sebesar 2%. Kenaikan harga emas secara mingguan didorong oleh dollar yang menguat.

 

Minggu I Oktober 2020

Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain sebagai berikut:

  • USA: Trade balance, JOLTs job opening, initial jobless claim
  • Tiongkok: Caixing Services PMI, Caixin Composite PMI, foreign exchange reserves
  • Jepang: Foreign exchange reserves, leading economic index, current account, household spending
  • EU: Retail sales
  • Indonesia: consumer confidence index, foreign exchange reserves, retail sales

 

Source: Danareksa Research Institute

Photo by Samuele Errico Piccarini on Unsplash