DRI: Pemulihan Ekonomi Domestik Didukung oleh Peningkatan Impor






Minggu III September 2020

  

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar global dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap mempengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut:

PERGERAKAN PASAR DOMESTIK

  • Pemulihan ekonomi domestik masih berlanjut meskipun dibayangi oleh peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia. Pemulihan ini didukung oleh peningkatan impor, terutama impor bahan baku dan barang konsumsi. Namun demikian, neraca perdagangan masih mencatatkan surplus.
  • Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI7DRR) sebesar 4%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,25% dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,75%. Keputusan ini diambil dengan tetap mempertimbangkan kondisi perekonomian global dan perekonomian domestik yang mulai pulih, hal ini terlihat dari sejumlah indikator ekonomi yang menunjukkan prospek positif.
  • Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus sebesar USD 2,33 miliar pada bulan Agustus 2020, ini lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar USD 3,24 miliar. Surplus didorong oleh posisi nilai ekspor yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai impor, meskipun secara bulanan ekspor Indonesia turun. Meskipun nilai ekspor turun secara bulanan namun kinerja ekspor Indonesia masih tertolong dengan harga komoditas global yang relatif membaik. Ekspor Indonesia bulan Agustus turun 4,62% mom menjadi USD 13,07 miliar yang mengindikasikan penurunan permintaan global di tengah kenaikan kinerja manufaktur negara mitra dagang. Sementara itu, impor secara bulanan naik sebesar 2,65% mom menjadi USD 10,74 miliar yang didominasi oleh impor bahan baku dan barang konsumsi yang mengindikasikan mulai pulihnya perekonomian domestik terutama pada ektor manufaktur.

PERGERAKAN PASAR GLOBAL

  • The Fed mempertahankan kebijakan moneternya dalam jangka waktu panjang untuk mendukung pemulihan ekonomi AS. Beberapa indikator ekonomi AS menunjukkan perbaikan terutama pada sektor industri, ritel dan perumahan namun belum kembali seperti semula.
  • The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 0% – 0.25% untuk jangka waktu yang panjang (sampai tahun 2023), kebijakan ini diambil dalam rangka memulihkan perekonomian AS dari resesi akibat Covid-19. Selain itu, The Fed juga menargetkan inflasi sebesar 2% untuk jangka waktu yang lama.
  • Total produksi industri di AS bulan Agustus 2020 naik 0.4% mom (-7.7% yoy). Kenaikan ini merupakan kenaikan bulanan keempat secara berturut – turut namun belum kembali pada level saat sebelum pandemi Covid-19.
  • Penjualan ritel di AS naik 0,6% mom pada bulan Agustus 2020 menyusul kenaikan 0,9% mom di bulan sebelumnya. Laju pertumbuhan pada bulan Agustus tidak sebesar bulan seblumnya diakibatkan penurunan jumlah tunjangan pengangguran yang diberikan oleh pemerintah.
  • Dari sektor tenaga kerja, jumlah warga AS yang mengisi tunjangan pengangguran naik 860 ribu klaim dalam pekan terakhir tanggal 12 September 2020. Ini menunjukkan pemulihan sektor tenaga kerja masih terganggu akibat adanya ancaman penyebaran Covid-19 gelombang kedua. Namun jumlah klaim tersebut mulai turun sejalan dengan mulai beroperasinya kegiatan bisnis setelah pelonggaran kebijakan lockdown.
  • Dari sektor perumahan, indeks pasar perumahan (NAHB housing market index) naik 5 poin ke level 83 pada September 2020. Penurunan suku bunga hipotek meningkatkan permintaan perumahan di AS. Di sisi lain, jumlah pembangunan rumah baru (housing start) di AS naik 5.1% menjadi 1,416,000 pada bulan Agustus 2020. Sementara itu, ijin mendirikan bangunan (building permits) turun 0,9% menjadi 1,470 juta di bulan Agustus 2020.

 

  • Perekonomian Tiongkok mulai pulih pasca pandemi Covid-19, beberapa indikator menunjukkan prospek positif, baik dari sisi konsumen maupun produsen yang ditunjukkan oleh kenaikan pada penjualan ritel dan produksi industri.
    • Perdagangan ritel Tiongkok pada bulan Agustus tumbuh 0,5% yoy, ini merupakan peningkatan pertama pada perdagangan ritel sejak pandemi Covid-19 melanda negara tersebut di bulan Desember 2019. Konsumsi masyarakat mulai kembali pulih terutama setelah kebijakan lockdown dilonggarkan oleh pemerintah Tiongkok.
    • Produksi industri Tiongkok naik 4,5% yoy pada bulan Agustus 2020, ini merupakan kenaikan terbesar sejak Desember 2019 yang mengindikasikan pulihnya perekonomian Tiongkok setelah pandemi Covid-19 melanda negara tersebut. Peningkatan tertinggi terdapat pada sektor manufaktur (+6% yoy), listrik (+5,8% yoy) dan pertambangan (+1,6% yoy).
    • Dari sektor perumahan, harga rata – rata rumah baru di 70 wilayah Tiongkok naik 4,8% yoy pada bulan Agustus 2020 namun masih menjadi laju paling lambat sejak Mei 2018 akibat calon pembeli yang masih khawatir terhadap penyebaran Covid-19 sehingga menunda pembeliannya. Hal ini menunjukkan bahwa sektor perumahan di Tiongkok belum sepenuhnya pulih.
    • Dari sektor tenaga kerja, tingkat pengangguran di Tiongkok bulan Agustus 2020 turun menjadi 5,60% dari 5,70% di bulan Juli 2020. Hal ini sejalan dengan mulai pulihnya perekonomian Tiongkok terutama pada sektor manufaktur.

 

  • Indikator ekonomi Eropa belum menunjukan tanda-tanda perbaikan, sebagaimana tercermin dari konsumsi maupun produksi yang masih rendah.
  • Surplus perdagangan kawasan Eropa bulan Juli 2020 meningkat menjadi EUR 27,9 miliar jika dibandingkan pada bulan Juli 2019 sebesar EUR 23,2 miliar. Ekpor turun 10,4% yoy yang didorong oleh penurunan ekspor bahan bakar, sementara itu impor turun lebih dalam sebesar 14,3% yoy yang disebabkan penurunan pada impor bahan bakar.
  • Surplus neraca transaksi berjalan kawasan Eropa menyempit tajam menjadi EUR 25,5 miliar pada bulan Juli 2020 dari posisi EUR 34,6 miliar di bulan sebelumnya.
  • Produksi industri kawasan Eropa bulan Juli 2020 naik 4,1% mom menyusul kenaikan 9,5% mom di bulan sebelumnya yang didorong oleh pulihnya perekonomian negara – negara kawasan Eropa setelah pelonggaran kebijakan lockdown.
  • Indeks harga konsumen kawasan Eropa bulan Agustus 2020 turun 0,40% mom (-0,2% yoy), ini merupakan penurunan pertama kalinya sejak Mei 2016. Hal ini menunjukkan rendahnya daya beli konsumen meskipun negara – negara di kawasan Eropa telah melonggarkan kebijakan lockdown.

 

  • BoJ tetap mempertahankan kebijakan moneter longgar untuk mendukung pemulihan ekonomi Jepang, hingga saat ini perekonomian Jepang masih belum menunjukkan perbaikan yang terlihat dari lesunya kegiatan ekpor-impor dan rendahnya daya beli.
  • BoJ mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran -0,1% serta imbal hasil obligasi tetap pada kisaran 0%. Kebijakan moneter longar ini tetap dipertahankan oleh BoJ untuk mendukung pemulihan ekonomi yang mengalami pertumbuhan negatif akibat krisis Covid-19. Disamping itu, BoJ juga akan tetap mempertahankan target inflasi sebesar 2% untuk mengakhiri deflasi berkepanjangan yang melanda perekonomian Jepang.
  • Inflasi Jepang turun menjadi 0.2% yoy pada bulan Agustus 2020 dari bulan sebelumnya sebesar 0.3% yoy. Inflasi bulan ini didorong oleh kenaikan harga pada makanan dan minuman (+2.9%).
  • Jepang mencatatkan surplus perdagangan sebesar JPY 248,3 miliar pada bulan Agustus 2020, ini merupakan surplus kedua dalam lima bulan terakhir. Surplus neraca perdagangan Jepang disebabkan oleh impor yang turun dalam sebesar 20,8% yoy menjadi JPY 4,98 triliun, sementara itu ekpor juga mengalami penurunan sebesar 14,8% yoy menjadi JPY 5,23 triliun.

 

  • Harga komoditas dunia bergerak naik dengan harga minyak dunia kompak mengalami kenaikan begitu juga dengan harga emas.
    • Harga minyak mentah WTI pada akhir perdagangan tanggal 18 September ditutup pada level USD 41/barel yang dipengaruh oleh penurunan persediaan minyak AS dan prospek pertemuan luar biasa OPEC+ yang membuat Arab Saudi bersedia untuk melakukan pengurangan produksi minyak. Secara mingguan WTI naik sebesar 10%.
    • Sementara itu, harga Brent pada akhir perdagangan tanggal 18 September 2020 ditutup pada level USD 43/barel. Secara mingguan minyak mentah Brent mengalami kenaikan 8%.
    • Harga emas naik5% ke level USD 1,950/ons pada penutupan perdagangan hari Jumat tanggal 18 September 2020, investor kembali beralih ke aset dengan resiko rendah seiring dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap pandemi yang akan berlangsung panjang.

 

Minggu IV September 2020

Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain sebagai berikut:

  1. USA: Durable goods, existing home sales, house price index, initial jobless claim, new home sales
  2. Jepang: Jibun Bank Manufacturing PMI, Jibun Bank Services PMI
  3. EU: Markit Manufacturing PMI, Markit Services PMI, consumer confidence

 

Source: Danareksa Research Institute

Photo by Mauro-Fabio Cilurzo on Unsplash