DRI: Penjualan Ritel Indonesia Turun ke-8 Kalinya Hingga 12,3%






Minggu II September 2020

  

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap mempengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut:

Indonesia

  • Dari domestik, posisi cadangan devisa Indonesia pada bulan Agustus 2020 sebesar USD 137,0 miliar meningkat USD 1,9 miliar jika dibandingkan bulan sebelumnya yang berada ada posisi USD 135,1 miliar. Peningkatan cadangan devisa bulan Agustus dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan devisa migas. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 9,4 bulan impor atau 9,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

 

  • Penjualan ritel Indonesia turun 12,3% yoy pada bulan Juli 2020 setelah di bulan sebelumnya juga turun sebesar 17,1% yoy. Ini merupakan penurunan ke delapan kalinya namun merupakan laju terlemah sejak Maret 2020. Pelonggaran kebijakan pembatasan berskala besar yang diambil pemerintah pada awal Juli lalu memberikan dampak positif pada penjualan ritel di Indonesia.

 

  • Pada tanggal 9 September 2020 Gubernur DKI Jakarta mengumumkan untuk memberlakukan PSBB kembali untuk menekan penyebaran Covid-19 di DKI Jakarta yang jumlahnya kembali meningkat. Kebijakan tersebut menjadi sentimen negatif di pasar modal Indonesia, dimana IHSG turun 5,1% ke level 4.891 pada akhir perdagangan 10 September 2020. Hal ini mengakibatkan BEI sempat memberlakukan trading halt. Namun pada akhir perdagangan 11 September 2020 IHSG berhasil rebound 2,56% ke level 5.016. Sejalan dengan tekanan pada pasar modal menyusul pengumuman pemberlakuan PSBB DKI Jakarta, nilai tukar rupiah 10 September 2020 ditutup melemah 0,38% ke posisi Rp 14.855. Hingga akhir perdagangan 11 September 2020 nilai tukar rupiah masih kembali melemah 0,24% ke posisi 14.890. Secara umum nilai tukar rupiah pada minggu kedua September telah melemah 0,96%, sekaligus menjadi mata uang terlemah se-Asia.

Komoditas

  • Dari harga komoditas, harga minyak mentah WTI naik 0,1% ke level USD 37,33/barel pada akhir perdagangan pada hari Jumat tanggal 11 September 2020. Secara mingguan WTI turun sebesar 6,1% dan merupakan penurunan secara mingguan kedua yang tertinggi sejak awal Juni 2020 di tengah kekhawatiran pulihnya permintaan global dan peningkatan cadangan minyak AS. Sementara itu, harga Brent pada akhir perdagangan tanggal 11 September 2020 ditutup turun 0,6% ke level USD 39,83/barel. Secara mingguan minyak mentah Brent mengalami penurunan 6,5%. Di sisi lain, harga emas turun 0,7% ke level USD 1.940/ons pada penutupan perdagangan hari Jumat tanggal 11 September 2020. Sepanjang tahun harga emas telah naik sebesar 28% yang didorong oleh kebijakan moneter yang longgar dan dampak penyebaran Covid-19 yang membuat investor beralih ke aset beresiko rendah.

Amerika Serikat

  • Dari ekonomi AS, tingkat inflasi di AS pada bulan Agustus 2020 naik menjadi 1,3% yoy setelah di bulan sebelumnya terjadi inflasi sebesar 1%. Ini merupakan inflasi tertinggi sejak bulan Maret 2020. Di sisi lain, industrial producer price (PPI) AS bulan Agustus 2020 naik 0,3% mom (-0,20% yoy) menyusul kenaikan 0,6% mom (-0,4% yoy) di bulan sebelumnya.

 

  • Dari sektor tenaga kerja, jumlah lowongan pekerjaan di AS pada bulan Juli 2020 meningkat sebesar 617.000 lowongan menjadi 6,618 juta lowongan. Namun jumlah tersebut masih berada di bawah sebelum masa pandemi sebesar 7 juta lowongan pekerjaan. Sementara itu, jumlah warga AS yang mengisi tunjangan pengangguran stabil di angka 884 ribu klaim dalam pekan yag berakhir tanggal 5 September 2020. Ini pertama kalinya sejak bulan Maret 2020 selama dua minggu berturut – turut klaim tunjangan pengangguran berada di bawah 1 juta klaim meskipun jumlahnya masih terus meningkat.

China

  • Dari ekonomi China, surplus neraca perdagangan China bulan Agustus 2020 meningkat tajam menjadi USD 58,93 miliar jika dibandingkan bulan Agustus 2019 sebesar USD 34,72 miliar. Ekspor naik 9,5% yoy menjadi USD 235,3 miliar yang didorong oleh naiknya permintaan global akibat beberapa negara yang telah melonggarkan kebijakan lockdown. Sedangkan, secara tak terduga impor turun sebesar 2,1% yoy menjadi USD 176,3 miliar yang menunjukkan masih lemahnya konsumsi domestik di China. Sementara itu, surplus perdagangan dengan AS meningkat menjadi USD 34,24 miliar pada bulan Agustus 2020 dari sebelumnya sebesar USD 32,46 miliar di tengah kembali memanasnya perang dagang antara AS-China.

 

  • Cadangan devisa China Agustus 2020 naik menjadi USD 3,165 triliun jika dibandingkan bulan sebelumnya yang berada pada posisi USD 3,154 triliun. Ini merupakan cadangan devisa tertinggi sejak bulan Desember 2016.

 

  • Tingkat inflasi China turun menjadi 2,4% yoy pada bulan Agustus 2020, ini merupakan inflasi terendah sejak Mei 2020 yang didorong oleh penurunan harga komponen makanan (-11,2% vs 13,2% di bulan Juli 2020). Hal ini menunjukkan masih rendahnya tingkat konsumsi masyarakat di tengah mulai pulihnya perekonomian negara tersebut dari krisis Covid-19.

 

  • Sementara itu, industrial producer price (PPI) China turun 2% yoy pada bulan Agustus 2020 melanjutkan penurunan di bulan sebelumnya sebesar 2,4% yoy. Penurunan harga produsen terus terjadi selama tujuh bulan berturut – turut namun ini merupakan penurunan harga yang terkecil karena kembali beroperasinya kegiatan bisnis.

Eropa

  • Dari kawasan Eropa, ECB memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 0% dengan tetap memberlakukan suku bunga sebesar -0,5% pada simpanan bank komersial serta suku bunga sebesar 0,25% untuk refinancing bank komersial. Sementara itu ECB juga memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi kawasan Eropa akan terkontraksi sebesar 8,7% pada tahun 2020, kemudian membaik menjadi 5,2% di tahun 2021 dan pada tahun 2022 diperkirakan pertumbuhan ekonomi sebesar 3,3%. Sementara itu untuk inflasi tahunan diperkirakan sebesar 0,3% pada 2020, 0,8% pada tahun 2021 dan 1,3% di tahun 2022.

Jepang

  • Dari ekonomi Jepang, pertumbuhan ekonomi Jepang direvisi terkontraksi sebesar -28,1% yoy pada kuartal II 2020 dari laporan awal -27,8% yoy. Ini adalah penurunan pertumbuhan ekonomi terbesar sepanjang sejarah perekonomian Jepang yang merupakan dampak krisis Covid-19.

 

  • Cadangan devisa Jepang turun menjadi USD 1.398,5 miliar pada bulan Agustus 2020 dari sebelumnya sebesar USD 1.402,5 miliar di bulan Juli 2020. Sementara itu, surplus neraca pembayaran Jepang menyempit menjadi JPY 1.468,3 miliar pada bulan Juli 2020 dari sebelumnya sebesar JPY 2.023,3 miliar.

 

  • Leading economic indicator Jepang pada bulan Juli 2020 naik ke level 86,9 setelah sebelumnya berada pada level 83,8. Ini merupakan level tertinggi sejak Februari 2020 yang menunjukkan adanya pemulihan kondisi ekonomi di tengah kembali beroperasinya kegiatan bisnis.

 

  • Industrial producer price (PPI) Jepang turun 0,5% yoy pada bulan Agustus 2020 mengikuti bulan sebelumnya yang juga mengalami penurunan sebesar 0,9% yoy.

 

  • Pengeluaran rumah tangga di Jepang turun 7,6% yoy pada bulan Juli 2020 menyusul penurunan 1,2% yoy di bulan sebelumnya. Kontraksi paling tajam terjadi pada pengeluaran untuk rekreasi (-21%), pengeluaran untuk pakaian (-20,2%) dan transportasi (-19,6%).

 

Minggu III September 2020

Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain sebagai berikut:

  • USA: Fed interest rate decision, Industrial production, retail sales, NAHB housing market, housing start, building permits, initial jobless claim
  • China: House price index, industrial production, retail sales, unemployment rate
  • Jepang: BoJ interest rate decision, trade balance, inflation rate, industrial production
  • EU: Trade balance, industrial production, economic sentiment, inflation rate, current account
  • Indonesia: Trade balance, interest rate decision

Sumber: Danareks Research Institute

Photo by Hanny Naibaho on Unsplash