DRI: Tekanan jual masih menyelimuti kinerja pasar regional






Minggu II Februari 2020

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap memengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut

Tekanan jual masih menyelimuti kinerja pasar regional. Terus bertambahnya jumlah korban jiwa virus Corona (COVID-19) dan terganggunya rantai pasokan barang bagi sektor manufaktur di banyak negara menjadi kekhawatiran pelaku pasar.

Laporan yang dirilis oleh Komisi Kesehatan Nasional China mengindikasikan bahwa 80 persen korban jiwa Corona berumur diatas 60 tahun, dan 75 persen pasien telah mengalami riwayat penyakit sebelumnya seperti sakit jantung dan diabetes. Studi sederhana lain yang dipublikasi pada jurnal medis The Lancet menunjukkan bahwa rerata umur pasian Corona mendekati 55,5 tahun. Penelitian ini dilakukan terhadap 99 pasien RS Jinyintan Wuhan periode 1-20 Januari 2020.

OPEC menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2020 menjadi 0,99 juta bpd, atau lebih rendah 0,23 juta bpd dari proyeksi sebelumnya. Dampak Corona terhadap ekonomi China menambah ketidakpastian pertumbuhan ekonomi dunia. Revisi proyeksi ini diperkirakan mendorong OPEC dan negara non OPEC memangkas lebih banyak produksi lebih cepat dalam waktu dekat.

 

Ekonomi Indonesia

Dari domestik, defisit neraca transaksi berjalan pada Q4 2019 tercatat sebesar USD 8,1 miliar (2,84% dari PDB), ditopang oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat. Meningkatnya surplus neraca perdagangan nonmigas terutama dipengaruhi oleh penurunan impor nonmigas di tengah kinerja ekspor nonmigas yang belum kuat.

Selanjutnya, surplus transaksi modal dan finansial Q4 2019 tercatat sebesar USD 12,4 miliar, lebih tinggi dari surplus Q3 2019 sebesar USD 7,4 miliar. Besarnya surplus tersebut terutama didorong oleh tingginya arus masuk investasi portofolio yang bersumber dari penerbitan obligasi global baik pemerintah maupun korporasi. Dengan perkembangan tersebut, neraca pembayaran Indonesia-NP! Q4 2019 mencatat surplus sebesar USD 4,3 miliar, membaik dibandingkan defisit Q3 2019 sebesar USD 46 juta.

 

Ekonomi Jepang

Dari ekonomi Jepang, harga barang dan jasa di tingkat produsen Jepang meningkat 1,7% yoy di buIan Januari 2020, menyusul kenaikan 0,9% yoy di bulan Desember 2019. Kenaikan ini merupakan yang tertinggi sejak November 2018 di dorong oleh meningkatnya harga minyak, makanan dan minuman, mesin produksi dan komponen elektronik.

 

Ekonomi Eropa

Dari ekonomi Eropa, GDP Eropa tumbuh melambat 0,1% pada Q4 2019, pasca ekspansi 0,3% di kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ini merupakan yang paling rendah sejak kontraksi 0,4% pada Q1 2013.

Output industri Eropa menurun 2,1% mom (eksp:-1,6% mom) di bulan Desember 2019, menyusul kondisi flat di bulan sebelumnya. Penurunan terjadi pada produksi barang modal, barang penolong, konsumsi, dan energi.

lndikator sentimen investor Eropa-Sentix Economic Index bulan Februari 2020 turun ke level 5,2 dari level 7,6. Optimisme investor menurun menyusul penyebaran virus Corona yang meningkatkan ketidakpastian pemulihan ekonomi global.

   

Ekonomi China

Dari ekonomi China, laju inflasi China di bulan Januari mencapai 1,4% mom, atau lebih tinggi dari bulan sebelumnya 0,4% mom. Secara tahunan, harga barang dan jasa di tingkat konsumen dari 4,5% menjadi 5,4% yoy tertinggi dalam 8 tahun, didorong naiknya harga komponen makanan (+20,6% yoy) dan komponen non makanan (+1,6% yoy). Sedangkan harga di tingkat produsen meningkat 0,1% yoy, setelah turun 0,5% yoy di bulan sebelumnya, tertinggi sejak Mei 2019.

  

Ekonomi Amerika Serikat (AS)

Dari sisi ekonomi AS, indikator NFIB Small Business Optimism Index buIan Januari 2020 naik ke level 104,3 dari 102,7 di buIan sebelumnya. Optimisme pebisnis usaha kecil AS membaik seiring ekspektasi penjualan dan trend laba yang membaik dalam beberapa tahun mendatang.

Laju inflasi bulanan AS mencapai 0,1% mom di bulan Januari 2020, melambat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,2% mom. Secara tahunan, tingkat inflasi menanjak dari 2,3% yoy menjadi 2,5% yoy (eksp:+2,4% yoy), atau tertinggi sejak Oktober 2018. Perkembangan ini didorong naiknya harga BBM, dan komponen perumahan. Kenaikan harga komponen makanan cenderung stabil.

Klaim tunjangan pengangguran mingguan AS (per 8 Feb 2020) naik 2 ribu aplikasi menjadi 205 ribu aplikasi. Rerata 4 mingguannya cenderung stabil pada level 212 ribu aplikasi dibandingkan minggu sebelumnya.

Penjualan retail AS bulan Januari 2020 meningkat 0,3% mom, lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya 0,2% mom, atau sejalan dengan ekspektasi pasar. Kenaikan penjualan tercatat terjadi pada kelompok produk kendaraan bermotor dan suku cadangnya, serta furniture.

Output industri AS turun 0,3% mom di bulan Januari 2020, menyusul penurunan serupa di bulan Desember 0,4% mom. Output sektor manufaktur melemah seiring kontraksi produksi barang tahan lama seperti mesin dan pesawat terbang.

 

Minggu III Februari 2020

Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain
USA: NAHB Housing market index, housing starts, building permits, klaim tunjangan pengangguran mingguan

Jepang: GDP Q4 2019, output industri, neraca perdagangan, core machinery orders
China: Uang beredar, 1Y/ SY loan prime rate
EU: Laju inflasi, indeks kepercayaan konsumen
Indonesia: Neraca perdagangan, Bl 7DRR

 

 

Sumber: Danareksa Research Institute (DRI)
Photo by Micheile Henderson on Unsplash