DRI: Tingkat Inflasi Indonesia Berada di Level Terendah






Minggu I Juni 2020

 

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. Danareksa Research Institue (DRI) merangkum sejumlah poin utama yang dianggap mempengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut:

 

Indonesia

 

  • Inflasi di Indonesia pada bulan Mei 2020 meningkat 0,07% mom (2.19% yoy) namun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 0.08% mom (2.21% yoy). Ini merupakan tingkat inflasi terendah sejak bulan Juni 2000 karena pemerintah memberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar yang membuat masyarakat tetap di rumah sehingga berakibat pada penurunan permintaan barang dan jasa. Inflasi bulan Mei didorong oleh inflasi pada komponen transportasi (+0.87%) akibat adanya kenaikan tiket pesawat dan kereta api di tengah larangan mudik dari pemerintah.

 

  • IHS Markit Manufacturing PMI Indonesia bulan Mei naik menjadi 28.6 setelah sebelumnya berada di level terendahnya sebesar 27.5. Ini masih merupakan level terendah kedua sepanjang catatan sebagai akibat dari kebijakan pembatasan sosial berskala besar yang diambil pemerintah untuk memutus penyebaran Covid-19. Penurunan pada pesanan baru, produksi dan permintaan impor sedikit berkurang walaupun masih merupakan yang terdalam sepanjang pencatatan.

 

  • Dari sisi pariwisata, kedatangan turis asing ke Indonesia turun 87.44% yoy menjadi 160 ribu pada bulan April 2020. Penurunan tersebut diakibatkan penyebaran Covid-19 di dunia yang membuat banyak negara mengambil kebijakan pembatasan perjalanan.

 

  • Dari harga komoditas, sepanjang bulan Mei 2020 harga minyak mentah WTI naik 5% menjadi USD 39, 55/ barel di akhir perdagangan pada hari Jumat tanggal 5 Juni 2020, ini merupakan penguatan tertinggi sejak tanggal 6 Maret 2020. Kenaikan harga WTI dipengaruhi oleh pencapaian kesepakatan antara OPEC+ dengan Irak mengenai kepatuhan terhadap aturan pengurangan kuota produksi. Sementara itu, harga Brent naik menjadi USD 42/barel pada akhir perdagangan hari Jumat tanggal 5 Juni 2020, secara mingguan harga minyak mentah Brent naik 16%. Di sisi lain, harga emas turun lebih dari 1.0% menjadi USD 1,685/ ons pada penutupan perdagangan hari Jumat tanggal 5 Juni 2020, ini merupakan level terendahnya sejak 30 April 2020. Penurunan tersebut didorong investor yang melepas safe haven assest dan beralih ke aset beresiko di tengah harapan pemulihan ekonomi global. Secara mingguan harga emas mengalami penurunan sebesar 2.4%.

 

Jepang

 

  • Dari ekonomi Jepang, cadangan devisa Jepang meningkat menjadi USD 1,378,200 juta pada bulan Mei 2020 dari USD 1,368,600 juta di bulan sebelumnya.

 

  • Leading economic indicators Jepang turun menjadi 76.2 pada bulan April 2020 dari bulan sebelumnya yang berada pada level 85.1, ini merupakan level terendah sejak Maret 2009 yang megindikasikan dampak ekonomi akibat pandemic Covid-19.

 

  • Jibun Bank Japan Manufacturing PMI terkonfirmasi berada pada level 38.4 di bulan Mei 2020, ini merupakan kontrakasi terdalam yang dialami sektor manufaktur Jepang sejak Maret 2009 sebagai dampak krisis Covid-19. Sementara itu Jibun Bank Japan Services PMI pada bulan Mei meningkat ke level 26.5 setelah pada bulan sebelumnya berada pada level 21.5.

 

  • Pengeluaran rumah tangga di Jepang turun 11.1% yoy pada bulan April 2020 menyusul penurunan 6% yoy di bulan sebelumnya. Ini merupakan penurunan ke tujuh kalinya karena konsumen mengurangi konsumsi sebagai salah satu dampak dari penyebaran Covid-19.

 

Eropa

 

  • Dari ekonomi Eropa, ECB kembali memperluas kebijakan Pandemic Emergency Purchase Programme (PEPP) dari €600 miliar menjadi € 1,35 triliun pada pertemuan bulan Juni 2020, jumlah tersebut lebih dari yag diharapkan, yaitu sebesar € 500 miliar. Kebijakan PEPP tersebut akan diimpelemntasikan sampai akhir tahun 2022, langkah ini diambil untuk mengurangi dampak Covid-19 dan memberikan ruang gerak fiskal bagi pemerintah untuk mendukung ekonomi negara di kawasan Eropa. Sementara itu ECB tetap mempertahankan suku bunganya pada pada kisaran 0%.

 

  • IHS Markit Manufacturing PMI kawasan Eropa pada bulan Mei 2020 berada di level 39.4 meningkat jika dibandingkan bulan April sebesar 33.4. Di sisi lain, IHS Markit Services PMI kawasan Eropa pada bulan Mei 2020 meningkat menjadi 30.5 setelah bulan sebelumnya berada di level 28.7.

 

  • Perdagagan ritel di Eropa turun 11.7% mom pada bulan April 2020, ini merupakan penurunan paling tajam sejak tahun 1995 akibat kebijakan yang diambil negara – negara kawasan Eropa untuk menekan penyebaran Covid-19 berdampak pada turunnya permintaan. Penurunan harga ritel paling besar terjadi pada kategori bahan bakar (-27.7%), produk nonmakanan (-17.0%) dan produk makanan, minuman dan tembakau (-5.5%).

 

  • Industrial Producen Prices (PPI) di kawasan Eropa turun 2.0% mom pada bulan Mei 2020 setelah penurunan 1.5% di bulan sebelumnya. Ini merupakan penurunan harga produsen paling tajam sejak November 2008, penurunan harga tertinggi terdapat pada sektor energi (-7.5% mom) dan sektor barang setengah jadi (-0.7% mom).

 

  • Dari sektor tenaga kerja, tingkat pengangguran kawasan Eropa naik 7.3% pada bulan April 2020 menyusul peningkatan 7.1% di bulan sebelumnya. Dengan begitu pengangguran kawasan Eropa meningkat 211 ribu menjadi 11,919 juta di bulan kedua kebijakan lockdown yang dilakukan pemerintah di kawasan Eropa untuk menekan penyebaran Covid-19. Pengangguran tertinggi tercatat di Spanyol (14.8%) dan Prancis (8.7%) sedangkan tingkat pengangguran terendah ada di negara Jerman(3.5%) dan Italia (6.3%).

 

China

  • Dari ekonomi China, cadangan devisa China naik USD 10,23 miliar pada bulan Mei 2020 menjadi USD 3,102 triliun. Ini merupakan jumlah terbesar sejak bulan Februari 2020 di tengah ketegangan yang terjadi antara China dan AS. Sementara itu, surplus neraca perdagangan China melebar menjadi USD 62,93 miliar pada bulan Mei 2020 dari sebelumnya sebesar USD 41,20 miliar. Ekspor turun 3.3% yoy menjadi USD 206,81 miliar setelah naik 3.5% pada bulan sebelumnya, sementara itu impor turun 16.7% yoy menjadi USD 143,89 miliar menyusul penurunan sebesar 14,2% di bulan sebelumnya. Surplus perdagangan dengan AS mencapai USD 27,89 miliar di bulan Mei 2020.

 

  • Caixin Manufacturing PMI China bulan Mei naik ke level 50.7 setelah pada bulan sebelumnya berada pada level 49.4. Ini merupakan kenaikan tertinggi sejak bulan Januari 2020. Output produksi meningkat namun pesanan baru dan ekspor tetap lemah karena permintaan global yang turun akibat pandemi Covid-19. Sementara itu, Caixin Services PMI China naik ke level 55.0 pada bulan Mei 2020 setelah bulan sebelumnya berada pada level 44.0. Pesanan baru naik yang didorong oleh tingginya permintaan domestik sementara itu untuk ekspor turun tajam akibat pembatasan yang dilakukan oleh negara lain untuk menekan penyebaran Covid-19.

 

AS

 

  • Dari ekonomi AS, defisit neraca perdagangan AS melebar ke USD 194 miliar pada April 2020 dari USD 43,3 miliar di bulan sebelumnya. Ini merupakan defisit perdagangan terbesar sejak delapan bulan terakhir akibat kebijakan pembatasan di berbagai negara. Eskpor turun 20.5% menjadi USD 151,3 miliar yang merupakan terendah sejak 10 tahun terakhir sementara itu impor turun sebesar 13.7% menjadi USD 200.7 miliar menuju level terendahnya sejak Juli 2010. Sementara itu defisit perdagangan antara AS dan China melebar dari USD 9 miliar menjadi USD 26 miliar.

 

  • IHS Markit Manufacturing AS pada bulan Mei 2020 berada pada level 39.8 setelah di bulan sebelumnya berada di level terendahnya sebesar 36.1. Namun ini masih merupakan level terendah kedua sejak bulan April 2020 yang didorong oleh lemahnya permintaan dan turunnya pesanan baru. Sementara itu, ISM Manufacturing PMI AS juga mencatatkan kenaikan ke level 43.1 di bulan Mei 2020 setelah bulan sebelumnya berada pada level 41.5. Di sisi lain, IHS Markit Services PMI AS direvisi lebih tinggi menjadi 37.5 pada bulan Mei 2020 setelah di bulan sebelumnya berada pada level terendahnya yaitu 26.7.

 

  • Dari sektor tenaga kerja, jumlah warga AS yang mengisi tunjangan pengangguran turun menjadi 1,877 juta klaim dalam pekan terakhir tanggal 30 Mei 2020, ini menjadi level terendah sejak krisis Covid-19 melanda AS. Secara keseluruhan. total klaim tunjangan pengangguran yang diajukan sejak tanggal 21 Maret 2020 menjadi 42,6 juta klaim. Tingkat pengangguran di AS turun 13.3% pada bulan Mei 2020 dari 14.7% di bulan sebelumnya, hal ini didorong oleh mulai pulihnya kegiatan perekonomian di AS.

 

  • Di sisi lain, terdapat tambahan lapangan pekerjaan sebanyak 2,5 juta di AS pada bulan Mei 2020, tambahan lapangan pekerjaan paling besar di sektor layanan pendidikan, konstruksi, perhotelan, kesehatan dan perdagangan ritel sedangkan di sektor pemerintahan mengalami penurunan. Sementara itu, payroll non-firm untuk bulan Maret 2020 turun sebesar 492,000 menjadi -1.4 juta dan untuk April turun sebesar 150,000 menjadi -20.7 juta.

 

Selain itu, DRI juga menjabarkan beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan, antara lain:

  • Indonesia: Foreign exchange reserves, retail sales, consumer confidence
  • USA: JOLTs Job opening, inflation rate, Fed Interest rate decision, initial jobless claim, PPI
  • Jepang: GDP growth Q1, current account, PPI, industrial production
  • EU: Industrial production
  • China: Infllation rate, PPI

Sumber: Danareksa Research Institute

Photo by Michael Weidemann on Unsplash