IMF memangkas proyeksi ekonomi global menjadi 2,9%, 3,3% dan 3,4% untuk tahun 2019, 2020 dan 2021.






Minggu IV Januari 2020
Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap memengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut:

Sentimen utama penggerak pasar minggu lalu datang dari keputusan sejumlah bank sentral dunia yang tetap mempertahankan kebijakan akomodatif, merebaknya wabah virus Corona, serta pemangkasan prospek ekonomi dunia oleh IMF.

Serangan virus Corona semakin mengkhawatirkan pelaku pasar, menyusul laporan dari 13 negara mengenai indikasi infeksi virus mematikan tersebut. Hingga akhir pekan lalu, virus ini telah menyebabkan korban meninggal dunia di China sebanyak 56 orang.

IMF memangkas proyeksi ekonomi global menjadi 2,9%, 3,3% dan 3,4% untuk tahun 2019, 2020 dan 2021. Sejumlah perkembangan positif diantaranya terkait dengan kebijakan moneter mayoritas bank sentral yang lebih akomodatif, damai dagang AS-China dan meredanya kekhawatiran no-deal Brexit. Namun, pertumbuhan ekonomi dunia masih dihadapkan pada risiko perang dagang baru AS-Uni Eropa dan potensi kembalinya perang dagang AS-China.

Dari domestik, RDG Bank Indonesia bulan Januari 2020 memutuskan untuk mempertahankan bunga acuan Bl- 7DRR sebesar 5,00%, dengan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility masing-masing sebesar 4,25%, dan 5,75%. Kebijakan moneter tetap akomodatif dan konsisten dengan perkiraan inflasi yang terkendali, stabilitas eksternal yang terjaga, serta upaya untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada posisi layak investasi (investment grade) level BBB, dengan prospek stabil. Dalam jangka menengah, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap baik dengan dukungan berlanjutnya pembangunan infrastruktur dan agenda reformasi periode kedua pemerintahan Jokowi, yang salah satunya adalah Omnibus Law. Omnibus Law diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi asing langsung dalam jangka menengah. Tantangan ekonomi Indonesia ke depan diantaranya adalah tingginya ketergantungan sumber pembiayaan eksternal dan penerimaan pemerintah yang rendah.

 

Ekonomi Jepang

Dari ekonomi Jepang, Bank of Japan menahan bunga acuan jangka pendeknya pada level minus 0,1% pada pertemuan Januari 2020, serta mempertahankan target yields obligasi pemerintah 10 tahun di kisaran nol persen. BOJ juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Jepang dari 0,7% menjadi 0,9% untuk tahun fiskal 2019.

Harga barang dan jasa di tingkat konsumen Jepang flat di bulan Desember 2019, setelah naik 0,1% mom di buIan November. Secara tahunan, laju inflasi Jepang naik 0,8% yoy dari 0,5% yoy di bulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong akselerasi kenaikan harga komponen makanan dan perumahan, serta biaya komponen transportasi yang kembali bergerak naik.

lndikator dini manufaktur Jepang-f/ash Jibun Bank Japan Manufacturing PMI naik ke level 49,3 di bulan Januari 2020 dari level Desember 48,4. Kontraksi sektor manufaktur Jepang masih terlihat meski penurunannya mulai melambat. Order baru, output produksi dan penjualan ekspor turun pada tingkat yang lebih rendah dari sebelumnya.

Nilai ekspor (-6,3% yoy) dan impor (-4,9% yoy) Jepang pada bulan Desember 2019 masing-masing mencapai JPY 6,58 triliun dan JPY 6,73 triliun, yang membawa defisit perdagangan melebar menjadi JPY 152,5 miliar dari defisit bulan sebelumnya, JPY 85,2 miliar.

Output industri turun 1,0% mom di bulan November 2019, menyusul penurunan 4,5% mom di bulan sebelumnya. Penurunan terbesar terjadi pada industri produsen mesin, informasi dan komunikasi, perlengkapan elektronik, metal pabrikan, mesin elektrik, dan besi baja.

 

Ekonomi Eropa

Dari ekonomi Eropa, ECB mempertahankan suku bunga acuan-refinancing rate tetap pada level 0%, dengan bunga marginal lending facility dan deposit facility bertahan masing-masing di level 0,25% dan minus 0,50% pada pertemuan Januari 2020. Hal ini sejalan dengan prediksi pelaku pasar.

 

Ekonomi China

Dari ekonomi China, People’s Bank of China mempertahankan suku bunga dasar kredit-loan prime rate 1 tahun dan 5 tahun tetap pada level 4,15% dan 4,80% di bulan Januari 2020.

 

Ekonomi Amerika Serikat (AS)

Dari sisi ekonomi AS, klaim tunjangan pengangguran mingguan (per 18 Januari 2020) meningkat 6 ribu aplikasi menjadi 211 ribu aplikasi. Rerata 4 mingguannya mencapai 213.250 aplikasi, atau menurun 3.250 aplikasi dari minggu sebelumnya.

lndikator ekonomi saat ini-CEI AS naik 0,1% di bulan Desember 2019 ke level 107,2, menyusul kenaikan 0,3% dibulan sebelumnya. Sedangkan untuk periode yang sama, indikator prospek ekonomi-LEI AS turun 0,3% ke level 111,2, menyusul kenaikan 0,1% di periode sebelumnya. Prospek ekonomi AS cenderung melambat seiring menurunnya aktivitas manufaktur AS, meski prospek sektor konsumen dan keuangan masih positif.

Penjualan stok rumah (existing home sales) di bulan Desember 2019 tumbuh 3,6% mom menjadi 5,54 juta unit (SA annual rate), atau level tertinggi sejak Februari 2018 dan proyeksi pasar (5,43 juta unit). Penjualan rumah tapak meningkat 2,7% dan apartemen sebesar 10,7%. Median harga rumah turut terkerek 7,8% menjadi USD 274.500, tertinggi sejak Januari 2016.

Presiden Trump menandatangani keputusan kenaikan tarif impor produk baja turunan sebesar 25% dan bea masuk produk aluminium turunan sebesar 10%. Negara yang dikecualikan untuk kenaikan tarif impor baja turunan antara lain Argentina, Australia, Brazil, Meksiko, dan Korea Selatan. Sedangkan Argentina, Australia, Kanada, dan Meksiko, merupakan negara yang dibebaskan dari tarif tambahan produk aluminium turunan.

Minggu I Februari 2020

Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain
* USA: New home sales, durable goods orders, Conference Board consumer confidence, pending home sales, FOMC rate decision, GDP annualized, personal income, klaim tunjangan pengangguran
* Jepang: Output industri, penjualan retail, Jibun Bank PMI
* China: Manufacturing PMI, Caixin PMI
* EU: Business climate indicator, laju inflasi, GDP SA, Markit manufacturing PMI
* Indonesia: Danareksa consumer confidence, Markit manufacturing PMI

 

 

 

Source: Danareksa Research Institute
Photo by Brian Kyed on Unsplash