DRI: Indonesia Resmi Menjadi Negara Berpenghasilan Menengah ke Atas






Minggu I Juli 2020

Danareksa Research Institute (DRI) merangkum sejumlah poin utama yang dianggap mempengaruhi kinerja pasar, baik domestik maupun regional dalam satu minggu terakhir, sebagai berikut:

 

Indonesia

 

  • Bank Dunia resmi menaikkan kelas Indonesia dari negara berpenghasilan menengah ke bawah (lower-middle income group) ke negara berpenghasilan menengah ke atas (upper-middle income group) mulai bulan Juli 2020 dengan GNI perkapita antara USD 4,045 – USD 12,535 per tahun. Peningkatan ini diharapkan membawa sentimen positif bagi investor untuk meningkatkan investasinya di Indonesia, memperbaiki current account, mendorong daya saing ekonomi dan memperkuat dukungan pembiayaan. Namun, dampak negatif akan tetap membayangi Indonesia terutama dalam mendapatkan fasilitas – fasilitas perdagangan seperti pembebasan tarif barang – barang ekspor ke AS melalui skema Generalized System of Preference (GSP). Selain itu, di tengah pandemi Covid-19 investor cenderung memilih negara berpenghasilan menengah ke bawah sehingga belum ada jaminan investor akan menanamkan modalnya di Indonesia.

 

  • Nilai tukar rupiah pada minggu pertama bulan Juli 2020 turun 2.12% menjadi Rp 14,450 ini merupakan penurunan mingguan terbesar sejak bulan Maret 2020. Jika dibandingkan dengan mata uang lainnya di Asia, rupiah menjadi yang terlemah pada minggu pertama bulan Juli 2020. Sentimen negatif datang dari rencana Bank Indonesia yang akan melakukan kebijakan Debt Monetization dengan membeli SBN di pasar perdana dengan suku bunga 0%. Bank Indonesia menyetujui untuk sharing the pain dengan Kementrian Keuangan dengan mendanai tagihan penanganan Covid-19 Indonesia senilai USD 40 miliar. Investor khawatir akan adanya kenaikan inflasi setelah kebijakan tersebut diambil, kenaikan inflasi akan menurunkan minat investor untuk berinvestasi sebab real return yang dihasilkan menjadi lebih rendah. Selain itu, tren laju kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia juga menjadi sentimen negatif lainnya pelemahan nilai tukar rupiah pada minggu I Juli 2020.

 

  • Sementara itu IHSG pada penutupan perdagangan tanggal 3 Juli 2020 naik 7.01 poin (0.14%) menjadi 4,973.79, IHSG menghijau bersamaan dengan pasar saham global yang menghijau. Sentimen positif datang dari membaiknya data PMI beberapa negara yang mengindikasikan aktivitas ekonomi terutama di sektor manufaktur kembali pulih. Selain itu uji coba vaksin dari dua perusahaan farmasi AS yang menciptakan antibodi penetralisir Covid-19 menjadi tenaga tambahan bagi kenaikan indeks IHSG.

 

  • Dari domestik, optimisme konsumen kembali melemah cukup dalam dari bulan sebelumnya. Survey dari Danareksa Research Institute menunjukkan indeks kepercayaan konsumen turun sebesar 3.6% mom ke level 72.6 di bulan Juni 2020 setelah di bulan sebelumnya berada pada level 75.3. Penurunan terjadi pada dua indikator utama yaitu indeks kondisi saat ini yang turun 10.7% menjadi 36.8 dan indeks ekspektasi konsumen yang turun 1.4% menjadi 99.5. Hal ini menunjukkan konsumen yang semakin pesimis terhadap kondisi perekonomian akibat dampak Covid-19. Pembatasan sosial berskala besar berpengaruh terhadap turunnya optimisme konsumen terutama dalam hal ketersediaan lapangan pekerjaan, ini merupakan respon dari maraknya pemutusan hubungan kerja di tengah pelonggaran pembatasan sosial berskala besar yang dilakukan pemerintah.

 

  • Inflasi di Indonesia pada bulan Juni 2020 meningkat 0,18% mom (1.96% yoy) lebih tinggi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 0.07% mom (2.19% yoy). Krisis Covid-19 mengakibatkan tren inflasi di Indonesia berbeda dari tahun – tahun sebelumnya. Inflasi bulan Juni didorong oleh kenaikan harga pada komponen bahan makanan (+0.47%) dan komponen transportasi (+0.41%). Rendahnya inflasi bulan Juni jika dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan daya beli masyarakat yang masih rendah di tengah pelonggaran kebijakan pembatasan sosial berskala besar oleh pemerintah. Maraknya pemutusan hubungan kerja mengurangi pendapatan masyarakat yang berakibat pada turunnya konsumsi, hal ini tercermin dari rendahnya inflasi inti (+2.65% yoy).

 

  • IHS Markit Manufacturing PMI Indonesia bulan Juni naik menjadi 39.1 setelah sebelumnya berada di level terendahnya sebesar 28.6. Pelonggaran kebijakan pembatasan sosial berskala besar yang diberlakukan pemerintah membuat industri manufaktur dalam negeri mulai menunjukkan peningkatan perlahan. Pesanan baru, ekspor dan produksi masih turun namun tidak sebesar bulan sebelumnya. Perusahaan juga masih melakukan pengurangan tenaga kerja dan pembelian secara besar – besaran hal ini sebagai dampak turunnya permintaan baik dari domestik maupun global. Nilai DRIM DRI Ringkasan Mingguan M1-Juli 2020 DRIM PMI Indonesia yang masih di bawah 50 memberikan indikasi bahwa sektor manufaktur masih mengalami perlambatan akibat krisis Covid-19.

 

  • Dari sisi pariwisata, kedatangan turis asing ke Indonesia turun 86.90% yoy menjadi 160 ribu pada bulan Mei 2020. Penurunan tersebut diakibatkan penyebaran Covid-19 di dunia yang membuat banyak negara mengambil kebijakan pembatasan perjalanan. Penurunan terjadi di berbagai wilayah terutama Bali, Jakarta dan Batam.

 

  • Dari harga komoditas, harga minyak mentah WTI naik 1% menjadi USD 40,1/ barel di akhir perdagangan pada hari Jumat tanggal 3 Juli 2020 di tengah kekhawatiran kan kenaikan permintaan minyak mentah. Secara mingguan harga minyak mentah WTI naik sebeasr 4%. Sementara itu, harga Brent turun sebesar 1% menjadi USD 42.6/barel pada akhir perdagangan hari Jumat tanggal 3 Juli 2020, secara mingguan harga minyak mentah Brent naik 4%. Di sisi lain, harga emas stabil pada harga USD 1,770/ ons pada penutupan perdagangan hari Jumat tanggal 3 Juli 2020, investor tetap berhati – hati di tengah lonjakan kasus Covid-19 di AS.

 

Jepang

 

  • Dari ekonomi Jepang, indeks keyakinan konsumen di Jepang bulan Juni 2020 meningkat menjadi 28.4 jika dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 24. Konsumen mulai sedikit optimis setelah pemerintah Jepang membuka kembali aktivitas perekonomian, hal ini tercermin dari peningkatan pada keseluruhan sub indeks.

 

  • Penjualan ritel Jepang bulan Mei 2020 turun 12.3% yoy setelah bulan sebelumnya juga turun sebesar 13.9% yoy. Ini merupakan penurunan ketiga kalinya perdagangan ritel selama masa pandemi Covid-19 menyebar di negara tersebut dan mengakibatkan turunnya permintaan. Penjualan turun untuk seluruh barang, penurunan terbesar terjadi pada penjualan kendaraan bermotor (-35.2% vs -23.7% di bulan sebelumnya). Namun secara bulanan penjualan ritel Jepang naik 2.1% mom di bulan Mei setelah pada bulan sebelumya turun 9.9% mom, ini merupakan kenaikan bulanan pertama dalam tga bulan terakhir.

 

  • Produksi industri Jepang bulan Mei 2020 turun 8.4% 8.4% mom mengikuti penurunan 8.9% mom di bulan sebelumnya. Output industri turun dalam empat bulan berturut – turut, hal ini disebabkan oleh perusahaan menghentikan produksi mereka selama kebijakan lockdown diberlakukan untuk menekan penyebaran Covid-19.

 

  • Dari sektor perumahan, housing start di Jepang Mei 2020 turun 12.3% yoy menyusul penurunan pada April 2020 sebesar 12.9% yoy. Ini merupakan penurunan selama sebelas bulan berturut – turut sejak adanya kenaikan pajak, bencana angin topan dan krisis Covid-19 yang melanda Jepang.

 

  • Dari sektor tenaga kerja, tingkat pengangguran di Jepang bulan Mei 2020 naik menjadi 2.9% yoy jika dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2.6% yoy. Ini merupakan tingkat pengangguran tertinggi sejak Mei 2017 sebagai akibat dari terganggunya aktivitas ekonomi karena pandemi Covid-19. Sementara itu, job to applications ratio turun menjadi 1.20 dari sebelumnya berada di level 1.32. Rendahnya job to applications ratio dan tingginya pengangguran menunjukkan krisis Covid-19 memukul perekonomian Jepang dari sisi ketenagakerjaan.

 

 

Eropa

 

  • Dari Ekonomi Eropa, indikator sentimen ekonomi kawasan Eropa naik 8.2 poin dari bulan sebelumnya menjadi 75.7 pada Juni 2020, setelah dalam dua bulan terakhir berada di level terendahnya selama 11 tahun terakhir. Naiknya sentimen tersebut artinya ada optimisme bangkitnya perekonomian setelah pelonggaran kebijakan lockdown di kawasan Eropa seperti Jerman, Italia, Spanyol dan Belanda. Hampir semua sektor mengalami kenaikan terutama di sektor ritel dan jasa.

 

  • Industrial Producen Prices (PPI) di kawasan Eropa turun 0.6% mom pada bulan Mei 2020 setelah penurunan 2.0% di bulan sebelumnya. Ini merupakan penurunan dalam empat bulan terakhir, penurunan harga tertinggi terdapat pada sektor energi (-1.4% mom) dan barang tidak tahan lama (-0.6% mom).

 

  • Dari sektor tenaga kerja, tingkat pengangguran kawasan Eropa naik 7.4% pada bulan Mei 2020 menyusul peningkatan 7.3% di bulan sebelumnya. Dengan begitu pengangguran kawasan Eropa meningkat 159 ribu menjadi 12,146 juta di tengah upaya pemerintah untuk menekan penyebaran Covid-19 dengan melakukan pembatasan kegiatan. Pengangguran tertinggi tercatat di Spanyol (14.5%) dan Prancis (8.1%) dan Italia (7.8%) sedangkan tingkat pengangguran terendah ada di negara Jerman (3.9%).

 

 

China

  • NBS Manufacturing PMI China naik ke level 50.9 pada Juni 2020 setelah pada bulan sebelumnya berada di level 50.6. PMI sektor manufaktur China naik dalam empat bulan berturut – turut setelah pemerintah mencabut kebijakan lockdown. Ini artinya perekonomian China mulai pulih perlahan setelah dilanda krisis Covid-19 sejak bulan Desember 2019. Peningkatan sektor manufaktur didorong oleh naiknya permintaan domestik sedangkan untuk ekspor masih mengalami penurunan.

 

  • Caixin Services Manufacturing naik ke level 58.4 pada bulan Juni 2020 setelah di bulan sebelumnya berada pada level 55.0. Kenaikan tersebut menunjukkan pertumbuhan sektor jasa sejak bulan April 2020. Pesanan baru meningkat yang didorong oleh peningkatan permintaan domestik dan permintaan global.

 

AS

 

  • Defisit neraca perdagangan AS melebar ke USD 54,6 miliar pada Mei 2020 dari USD 49,8 miliar di bulan sebelumnya. Ini merupakan defisit perdagangan terbesar sejak Desember 2018 akibat turunnya ekspor dan impor karena krisis Covid-19. Eskpor turun 4.4% menjadi USD 144,5 miliar yang merupakan terendah sejak November 2009 sementara itu impor turun sebesar 0.9% menjadi USD 199.1 miliar menuju level terendahnya sejak Juli 2010. Defisit perdagangan antara AS dan China melebar dari USD 1.9 miliar menjadi USD 27.9 miliar.

 

  • Dari sektor perumahan, pending home sales di AS turun 5.1% yoy pada bulan Mei 2020. Namun secara bulanan pending home sales di AS naik 44.3% mom jika dibandingkan penurunan 33.8% mom di bulan April 2020.

 

  • Dari sektor tenaga kerja, jumlah warga AS yang mengisi tunjangan pengangguran turun menjadi 1,427 juta klaim dalam pekan terakhir tanggal 27 Juni 2020, ini menjadi level terendah sejak krisis Covid-19 melanda AS. Secara keseluruhan total klaim tunjangan pengangguran yang diajukan sejak tanggal 21 Maret 2020 menjadi 48,7 juta klaim. Tingkat pengangguran AS turun 11.1% pada Juni 2020. Ini mengindikasikan perekonomian AS mulai kembali pulih meskipun perlahan setelah pamerintah mengambil kebijakan untuk membuka lagi kegiatan ekonomi dan bisnis. Bisnis kembali dibuka sehingga banyak orang yang kembali bekerja setelah penerapan lockdown selama beberapa bulan. Jumlah pengangguran turun 3,2 juta menjadi 17,8 juta dan lapangan pekerjaan naik 4,9 juta menjadi 142,2 juta.

 

 

Minggu II Juli

 

Adapun beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain:

 

  • Indonesia: Foreign exchange reserves, retail sales
  • USA: JOLTs job opening, initial jobless claim, PPI
  • Jepang: Household spending, leading economic index, current account, machinery orders, PPI
  • EU: Retail sales
  • China: Foreign exchange reserves, inflation rate, PPI

 

Source: Danareksa Research Institute

Photo by Rival Sitorus on Unsplash