Kasus baru infeksi virus Corona di China masih menghantui kinerja bursa regional






Minggu I Februari 2020

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap memengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut:

Kasus baru infeksi virus Corona di China masih menghantui kinerja bursa regional. Bursa saham China bahkan anjlok lebih dari 7 persen pada perdagangan hari pertama pasca perpanjangan libur Tahun Baru lmlek. Terkait wabah Corona, hingga 9 Februari 2020 Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan kasus infeksi menjadi 40.171 kasus, dengan korban meninggal dunia sebanyak 908 jiwa. Rencana beroperasinya kembali pabrikan di sejumlah wilayah China pada 10 Februari 2020, kemungkinan kembali ditunda hingga 1 Maret mendatang dan harus mendapatkan izin pemerintah lokal.

Pemulihan sementara pasar terlihat pasca upaya agresif pemerintah dan otoritas moneter China mengatasi masalah kesehatan dan menopang ekonomi domestik. Pemerintah China memangkas bea masuk ratusan barang impor dari AS. Kebijakan ini terkait implementasi kesepakatan dagang fase pertama dan upaya pemulihan domestik dari dampak virus Corona. Bea masuk impor produk 10% diturunkan menjadi 5% dan tarif 5% menjadi 2,5% untuk impor barang dari AS senilai USD 75 miliar mulai 14 Februari 2020. Sementara itu, People’s Bank of China (PBoC) memangkas bunga 7D-reverse repo menjadi 2.4% dari 2.5% dan tenor 14D dari 2.65% menjadi 2,55%. PBOC juga menyuntik likuiditas ke pasar uang hingga CNY 1,2 triliun.

Bank sentral regional masih mempertahankan kebijakan akomodatif, seperti Reserve Bank of Australia mempertahankan bunga acuan-cash rate pada level 0,75 persen pada pertemuan Januari 2020. Reserve Bank of India mempertahankan bunga acuan repo rate pada level 5,15 persen pada pertemuan Februari 2020. Kebijakan ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik dan capaian target inflasi. Bank sentral Filipina menurunkan tingkat bunga acuan-reverse repo sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen pada pertemuan 6 Februari 2020, atau sejalan dengan prediksi pasar. Bank of Thailand memangkas bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 1 persen, atau level terendah sejak Mei 2000.

 

Ekonomi Indonesia

Dari domestik, BPS merilis laju inflasi Januari 2020, dengan menggunakan tahun dasar baru 2018. Tingkat inflasi bulanan mencapai 0,39% mom atau 2,68% yoy secara tahunan. Kenaikan harga utamanya digerakkan oleh kombinasi meningkatnya harga kelompok makanan (+1,62% mom), serta biaya transportasi yang menurun (- 0,89% mom).

Ekonomi Indonesia Q4 2019 tumbuh 4,97% yoy, melambat dibandingkan Q4 2018 (+5,18% yoy) dan Q3 2019 (+5,02% yoy). Dari sisi pengeluaran, semua komponen GDP melambat dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya. Belanja rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah masing-masing tumbuh 4,97%, 4,06%, dan 0,48%, sementara ekspor (-0,39%) dan impor (-8,05%) berkontraksi. Lebih detil pada kinerja 5 sektor terbesar dalam ekonomi, sektor manufaktur (+3,66% yoy), perdagangan (+4,24% yoy), dan pertambangan (+0,94% yoy) tumbuh melambat, sedangkan sektor pertanian (+4,26% yoy) dan konstruksi (+5,79% yoy) berakselerasi. Untuk FY 2019, ekonomi Indonesia tumbuh 5,02%, melambat dibandingkan tahun 2018 sebesar 5,17%, atau terendah dalam 3 tahun terakhir.

Cadangan devisa Indonesia per Januari 2020 mencapai USD 131,7 miliar, meningkat dari buIan Desember sebesar USD 129,2 miliar. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,8 bulan impor atau 7,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Kenaikan cadangan devisa pada Januari 2020 terutama didorong oleh penerbitan global bond pemerintah, penerimaan devisa migas, dan penerimaan valas lainnya.

 

Ekonomi Eropa

Dari ekonomi Eropa, indikator IHS Markit Manufacturing PMI Januari 2020 naik ke level 47,9 dari level 46,3 di bulan Desember 2019. Level penanda kontraksi manufaktur Eropa ini telah berlangsung selama 12 bulan. Pesanan baru, produksi dan pembelian menurun pada tingkat yang lebih lambat.

Penjualan retail kawasan Eropa bulan Desember 2019 tercatat menurun 1,6% mom, dari sebelumnya yang mampu tumbuh 0,8% mom. Secara tahunan, belanja retail konsumen melambat dari 2,3% yoy menjadi 1,3% yoy. Penjualan menurun pada produk makanan, minuman, serta BBM.

 

Ekonomi China

Dari ekonomi China, indikator manufaktur-Caixin Manufacturing PMI turun ke level 51,1 di bulan Januari 2020 dari level 51,5 di bulan sebelumnya. Melambatnya sektor manufaktur China didorong pertumbuhan output dan order baru yang melambat, sementara penjualan ekspor menurun. Sementara itu, Caixin China General Services PMI bulan Januari 2020 turun ke level 51,8 dari bulan sebelumnya 52,5. Ekspansi sektor jasa China bergerak melambat seiring lesunya permintaan domestik, sementara serapan tenaga kerja cenderung stagnan.

 

Ekonomi Amerika Serikat (AS)

Dari sisi ekonomi AS, indikator ISM Manufacturing PMI bulan Januari 2020 naik ke level 50,9 dari level Desember 47,8, dan melebihi eskpektasi pasar di level 48,5. Perkembangan ini menunjukkan sinyal ekspansi manufaktur pertama dalam 6 bulan terakhir, didorong meningkatnya order baru, pesanan ekspor, dan produksi pabrikan.

Nilai ekspor (+0,8%) dan impor (+2,7%} AS bulan Desember 2019 meningkat masing-masing mencapai USD 209,6 miliar dan USD 258,5 miliar. Melesatnya impor diatas ekspor membuat defisit perdagangan melebar menjadi USD 48,9 miliar dari USD 43,7 miliar.

Pesanan baru yang diterima pabrikan AS meningkat 1,8% mom (Eksp:+1,2% mom) di buIan Desember 2019, menyusul penurunan 1,2% mom di bulan sebelumnya. Kenaikan ini merupakan yang tertinggi sejak Agustus 2018, didorong permintaan perlengkapan transportasi, pesawat terbang militer, kendaraan bermotor dan suku cadangnya.

Di sektor ketenagakerjaan AS, ADP National Employment Report bulan Januari 2020 menunjukkan serapan tenaga kerja swasta non pertanian AS mencapai 291 ribu posisi dari 199 ribu posisi di bulan Desember 2019. Serapan tenaga kerja ini merupakan yang terbesar sejak bulan Mei 2015. Bisnis skala menengah mencatat serapan tenaga kerja tertinggi (+128 ribu) diikuti usaha kecil (+94 ribu) dan usaha skala besar (+69 ribu). Sektor industri dan jasa masing­ masing menyerap 54 ribu dan 237 ribu posisi tenaga kerja.

Data tenaga kerja terbitan U.S. Bureau of Labor Statistics menunjukkan serapan tenaga kerja non pertanian (nonfarm payrolls) meningkat 225 ribu posisi (Eksp:+160 ribu) di bulan Januari 2020, dari 147 ribu posisi di bulan Desember 2019. Kenaikan terbesar datang dari sektor konstruksi, jasa kesehatan, transportasi, dan pergudangan. Pada periode yang sama, rerata pendapatan perjam yang diperoleh tenaga kerja tumbuh 0,2% mom dari 0,1% mom di bullan sebelumnya. Tingkat pengangguran AS bulan Januari 2020 sedikit naik dari 3,5% menjadi 3,6%.

Klaim tunjangan pengangguran mingguan (per 1 Februari 2020) turun 15 ribu aplikasi menjadi 202 ribu aplikasi, atau level terendah sejak April 2019. Rerata 4 mingguannya ikut lungsur 3 ribu aplikasi menjadi 211.750 aplikasi, yang mengindikasikan pasar tenaga kerja yang makin solid.

 

Minggu II Februari 2020

Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain
USA: Laju inflasi, klaim tunjangan pengangguran mingguan, penjualan retail, output industri
Jepang: GDP Q4 2019, output industri
China: Laju inflasi, tingkat harga produsen
EU: Output industri, neraca perdagangan, GDP Q4 2019
Indonesia: Neraca perdagangan, penjualan otomotif

 

 

Sumber: Danareksa Research Institute
Photo by Jérémy Stenuit on Unsplash