DRI M2-Okt 2019: Perkembangan indikator PMI mengindikasikan aktivitas manufaktur yang masih menurun






Danareksa Research Institute/ DRI Ringkasan Mingguan M2-Okt-2019

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap memengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut

  • Minggu lalu rilis data terbaru indikator manufaktur-PMI sejumlah negara dan data ketenagakerjaan AS, menjadi fokus utama perhatian investor. Perkembangan indikator PMI mengindikasikan aktivitas manufaktur yang masih menurun. Selain itu pelaku pasar mencermati perkembangan negosiasi dagang AS-China, AS-Uni Eropa, risiko politik dalam negeri AS, dan geopolitik lainnya. Hasilnya tekanan jual masih menekan kinerja pasar.
  • Dari domestik, rilis data BPS menunjukkan harga barang dan jasa di tingkat konsumen menurun 0,27% mom pada buIan September 2019, lebih rendah dari inflasi buIan sebelumnya (+O,12% mom), dan konsensus pasar (-0,15% mom). Secara tahunan, laju inflasi melambat dari 3,49% yoy menjadi 3,39% yoy. Harga komponen makanan menurun tajam, sementara kenaikan harga pada komponen inflasi lainnya cenderung melambat.
  • lndikator IHS Markit Indonesia Manufacturing PMI buIan September 2019 sedikit meningkat ke level 49,1 dari level Agustus 49,0. Level PMI bertahan dibawah 50 selama 3 bulan berturut-turut, yang mengindikasikan kontraksi aktivitas manufaktur Indonesia. Pesanan baru yang diterima industri, output produksi, dan penjualan ekspor tercatat menurun.
  • Dari ekonomi China, indikator manufaktur-PMI resmi pemerintah China di bulan September 2019 sedikit meningkat dari level 49,5 ke level 49,8 (vs konsensus pasar 49,5). Meski meningkat, level PMI dibawah 50 masih memperlihatkan kontraksi di sektor manufaktur China, yang telah berlangsung dalam 5 bulan terakhir. Menurunnya aktivitas manufaktur didorong melambatnya pesanan baru dan output produksi, sementara permintaan ekspor masih menurun.
  • Dari ekonomi Jepang, output industri Jepang menurun 1,2% mom di bulan Agustus, menyusul kenaikan 1,3% mom di bulan sebelumnya. Penurunan produksi terjadi pada kelompok produk besi dan baja, mesin, serta kendaraan bermotor.
  • lndikator BOJ Tankan Index untuk perusahaan besar menurun ke level 5 pada Q3 2019, dari level 7 di kuartal sebelumnya, atau menjadi level terendah dalam 6 tahun. Penurunan ini mengindikasikan turunnya optimisme pebisnis usaha besar terhadap kondisi ekonomi Jepang dan bisnis saat ini serta prospeknya ke depan.
  • Di sektor konsumen, penjualan retail Jepang meningkat tajam 4,8% mom di bulan Agustus, pasca menurun 2,3% mom di periode sebelumnya. Belanja retail meningkat pada produk perlengkapan mesin, pakaian jadi, BBM, dan makanan minuman. Selanjutnya, indeks kepercayaan konsumen Jepang menurun dari level 37,1 ke level 35,6 di bulan September 2019, atau level terendah sejak Juni 2011. Keyakinan konsumen terhadap ekonomi dan bisnis tertekan, jelang kenaikan pajak penjualan (dari 8% menjadi 10%) pada 1 Oktober 2019. lndikator rencana beli barang tahan lama, pertumbuhan pendapatan, dan serapan tenaga kerja ikut mengalami penurunan.
  • Dari ekonomi Australia, Reserve Bank of Australia (RBA) memangkas bunga acuan-cash rate sebesar 25 bps menjadi 0,75% pada pertemuan September 2019. Pemangkasan ketiga dalam 5 buIan ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, serapan lapangan kerja dan capaian target inflasi dalam jangka menengah.
  • Dari ekonomi AS, indikator ISM Manufacturing PMI bulan September turun ke level 47,8 (vs konsensus 50,1) dari buIan sebelumnya 49,1. Kontraksi aktivitas manufaktur AS didorong turunnya order baru, output produksi, serapan tenaga kerja, dan permintaan ekspor. PMI September 2019 menjadi yang terendah sejak Juni 2009. Dampak perang dagang dan kenaikan tarif impor menekan kinerja industri AS. Pesanan baru yang diterima pabrikan (factory orders) turun 0,1% mom (vs -0,2% mom konsensus) dari pertumbuhan buIan sebelumnya sebesar 0,4% mom. Turunnya permintaan terjadi pada kelompok produk perlengkapan transportasi-pesawat dan suku cadang, elektronik dan komputer, serta komponen elektronik. Di sektor jasa, indikator ISM non manufacturing PMI turun ke level 52,6 di bulan September (vs 55,0 konsensus pasar), dari level 56,4 di bulan sebelumnya. Melambatnya ekspansi sektor non manufaktur AS disebabkan menurunnya order baru yang diterima perusahaan.
  • Kekhawatiran investor atas prospek ekonomi global makin bertambah menyusul tensi dagang terbaru antara AS dengan EU, setelah sebelumnya AS-China. AS akan mengenakan tarif impor dari EU untuk produk pesawat terbang dan pertanian yang berlaku efektif mulai 18 Oktober mendatang. Tarif 10 persen akan dikenakan untuk produk pesawat terbang, dan 25 persen untuk sejumlah produk pertanian, garmen, dan makanan.
  • Pada sektor ketenagakerjaan AS, klaim tunjangan pengangguran mingguan (per 28 September 2019) sedikit meningkat 4 ribu aplikasi menjadi 219 ribu aplikasi. Rerata 4 mingguan mencapai 212.500 aplikasi, atau flat dari rerata minggu sebelumnya. Selanjutnya, ADP Employment Report menunjukkan serapan tenaga kerja swasta non pertanian AS mencapai 135 ribu posisi (vs konsensus 152 ribu) di bulan Agustus 2019, lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 157 ribu posisi. Menurut skala usaha, bisnis skala kecil, menengah, dan besar masing-masing menyerap 30 ribu, 39 ribu, dan 67 ribu posisi. Sektor industri menambah tenaga kerja sebesar 8 ribu posisi, dengan sektor manufaktur mencapai 2 ribu posisi. Untuk sektor jasa, serapan tenaga kerja mencapai 127 ribu posisi.
  • Data resmi ketenagakerjaan terbitan pemerintah AS menunjukkan bahwa serapan tenaga kerja non pertanian di bulan September 2019 mencapai 136 ribu posisi (vs 145 ribu posisi-konsensus pasar), lebih rendah dari serapan di bulan sebelumnya sebanyak 168 ribu posisi. Kenaikan serapan terjadi pada sektor jasa kesehatan dan jasa profesional bisnis. Rerata pendapatan per jam yang diperoleh tenaga kerja tidak mengalami kenaikan (+0,0% mom), menyusul kenaikan bulanan sebesar 0,4% mom di periode sebelumnya. Tingkat pengangguran AS menurun dari 3,7% menjadi 3,5%.
  • Di sektor perdagangan luar negeri, nilai ekspor (+0,2%) dan impor AS (+0,5%) bulan Agustus 2019, masing-masing mencapai USD 207,9 miliar dan USD 262,8 miliar. Kenaikan impor melebihi ekspor mendorong defisit perdagangan melebar menjadi USD 54,9 miliar dari USD 54,0 miliar.

 

 

Minggu Ill Oktober 2019

Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain

  • USA: Producer price index, JOLTS Job Openings, inflasi, initial jobless claims
  • Jepang: LEI, CEI, producer price index, core machinery orders
  • EU: Sentix investor confidence
  • China: Ekspor-impor, FDI
  • Indonesia: Cadangan devisa