Memburuknya epidemi virus Corona berdampak negatif pada kinerja pasar global






Minggu V Januari 2020

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap memengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut

Memburuknya epidemi virus Corona berdampak negatif pada kinerja pasar global. Pelaku pasar mengkhawatirkan dampak besar akibat penyebaran virus yang cepat dan masif. WHO bahkan mengumumkan wabah virus ini menjadi situasi darurat global sebagai “peristiwa luar biasa”. China mengonfirmasi kenaikan kasus menjadi 11.791, dengan korban sebanyak 259 jiwa pada akhir pekan lalu. Jumlah kasus infeksi Corona saat ini telah melebihi jumlah kasus SARS China pada 2002-2003 lalu, dengan kecepatan yang lebih tinggi. Data WHO menunjukkan bahwa wabah SARS di China mencapai 5.327 kasus dalam kurun waktu 6 bulan (1 Nov 2002 – 31 Juli 2003).

 

Ekonomi Indonesia

Dari domestik, indeks kepercayaan konsumen Danareksa buIan Januari 2020 turun ke level 102,4 dari level Desember 104,9. Penilaian konsumen terhadap kondisi ekonomi, bisnis, dan pendapatan keluarga saat ini dan prospeknya mengalami penurunan. Konsumen mengkhawatirkan naiknya inflasi menyusul naiknya sejumlah komponen seperti harga pangan, iuran BPJS, rokok, dan tarif tol.

 

Ekonomi Jepang

Japan Credit Rating Agency (JCR) menaikkan rating utang Indonesia dari BBB (outlook positif) menjadi BBB+(outlook stabil). JCR menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat didorong konsumsi domestik, dengan defisit APBN dan utang pemerintah pusat masih terjaga. Indonesia dianggap tahan gejolak eksternal karena kebijakan moneter fleksibel dan mendukung stabilitas nilai tukar.

Dari ekonomi Jepang, indeks kepercayaan konsumen Jepang bulan Januari 2020 stabil di level 39,1 seperti buIan sebelumnya. Penilaian rumah tangga Jepang terhadap kondisi lingkungan dan pertumbuhan pendapatan cenderung menurun dari survei sebelumnya, sedangkan persepsi terhadap lapangan kerja dan rencana pembelian barang tahan lama mencatat kenaikan.

Output industri Jepang tumbuh 1,3% mom di bulan Desember 2019 (vs eksp:+0,7% mom), setelah sempat menurun 1% mom di buIan sebelumnya. Meningkatnya produksi terjadi pada industri mesin, dan suku cadang elektronik. Meski secara bulanan membaik, output produksi industri Jepang turun 3 persen secara tahunan, atau dibawah ekspektasi pasar yaitu minus 2,4% yoy.

Penjualan retail Jepang bulan Desember 2019 tumbuh melambat menjadi 0,2% mom dari 4,5% mom di bulan sebelumnya. Secara tahunan, belanja retail masih menurun 2,6% yoy, terutama untuk produk pakaian, kendaraan bermotor, mesin dan perlengkapannya, serta BBM.

 

Ekonomi Eropa

Dari ekonomi Eropa, lnggris akhirnya secara resmi meninggalkan Uni Eropa pada 31 Januari 2020. Proses Brexit selama 3,5 tahun telah menyebabkan guncangan politik, ketidakpastian ekonomi, dan eskalasi hubungan lnggris dengan Uni Eropa. Selanjutnya lnggris akan memasuki masa transisi, yang memposisikan lnggris tetap menjadi anggota pasar dan pabean tunggal Uni Eropa hingga akhir 2020, seiring berjalannya proses negosiasi dagang dengan Eropa.

 

Ekonomi China

Dari ekonomi China, indikator manufaktur-PMI terbitan pemerintah China bulan Januari 2020 turun ke level 50,0 dari level Desember 50,2. Order baru dan output produksi mencatat kenaikan, sedangkan permintaan ekspor dan serapan tenaga kerja menurun. Aktivitas manufaktur China terancam kontraksi, seiring dampak merebaknya virus Corona.

 

Ekonomi Amerika Serikat (AS)

Dari sisi ekonomi AS, The Fed mempertahankan target bunga acuan FFR di level 1,50%-1, 75% pada pertemuan Januari 2020, atau sejalan dengan ekspektasi pasar. Kebijakan moneter saat ini diambil dengan pertimbangan aktivitas ekonomi AS yang tumbuh moderat, kondisi pasar tenaga kerja yang solid, serta target inflasi sebesar 2 persen. The Fed juga menetapkan bunga atas tingkat excess reserve (IOER) dinaikkan sebesar 5 bps menjadi 1,6%, untuk mendorong tingkat bunga dipasar uang (Fed funds market) tetap berada di rentang target FOMC.

Estimasi awal Bureau of Economic Analysis memperlihatkan bahwa ekonomi AS Q4 2019 tumbuh 2,3% yoy (vs Q3 2019: 2,1% & Q4 2018: 2,5%). Dibandingkan Q4 2018, belanja rumah tangga stabil pada level 2,6% yoy, ekspor tumbuh melambat 0,2% yoy, investasi dan impor masing-masing berkontraksi -1,9% yoy dan -2,2% yoy. Sedangkan belanja pemerintah tumbuh ekspansif 3,0% yoy.

Di sektor perumahan AS, kontrak kepemilikan rumah (pending home sales) tumbuh 4,6% yoy di bulan Desember 2019, lebih lambat dari pertumbuhan bulan November sebesar 7,9% yoy. Kontrak penjualan cenderung menurun disemua wilayah AS pada penutupan akhir tahun lalu. Penjualan rumah tapak baru (new home sales) bulan Desember menurun 0,4% mom (Eksp:+1,5% mom) menjadi 694 ribu (SA annual rate), menyusul penurunan 1,1% di bulan sebelumnya. Meski terus melemah dalam 3 bulan terakhir, dalam periode Jan-Des 2019 penjualan rumah tumbuh 10,3% sebanyak 681 ribu unit, atau level tertinggi sejak tahun 2006.

Pesanan barang tahan lama (durable goods orders) yang diterima pabrikan tumbuh 2,4% mom (eksp:+0,4% mom) di bulan Desember 2019, setelah di bulan sebelumnya turun 3,1% mom. Hal ini didorong melesatnya pesanan militer setelah Kongres AS menyetujui rencana belanja militer AS. Kenaikan pesanan pada produk hankam mengimbangi penurunan permintaan produk pesawat komersil, kendaraan bermotor, dan suku cadang.

lndeks kepercayaan konsumen terbitan The Conference Board bulan Januari 2020 naik dari level 128,2 ke level 131,6. Optimisme rumah tangga AS ditopang penilaian positif terhadap pasar tenaga kerja saat ini dan prospek lapangan kerja ke depan.

Pendapatan dan belanja personal masyarakat bulan Desember tumbuh melambat masing-masing menjadi 0,2% mom dan 0,3% mom dari 0,4% mom di bulan sebelumnya. Personal consumption expenditure (PCE) price index meningkat 0,3% mom di buIan Desember 2019, pasca naik 0,1% mom di buIan sebelumnya. Secara tahunan, PCE price index meningkat dari 1,4% yoy menjadi 1,6% yoy.

Klaim tunjangan pengangguran mingguan (per 25 Januari 2020) menurun 7 ribu aplikasi menjadi 216 ribu aplikasi. Rerata 4 mingguannya mencapai 214.500 aplikasi atau lebih rendah 1.750 aplikasi dari minggu sebelumnya.

 

 

 

Minggu 1 Februari 2020

Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain
USA: Markit US PMI, ISM Manufacturing Index, factory orders, ADP employment change, neraca perdagangan, klaim tunjangan pengangguran, tingkat pengangguran, average hourly earnings

Jepang: Neraca perdagangan CEI, LEI
China: Caixin PMI, neraca perdagangan, laju inflasi
EU: Markit manufacturing PMI, PPI, penjualan retail, Sentix investor confidence
Indonesia: Laju inflasi Januari 2020, GDP Q4 2019, cadangan devisa

Sumber: Danareksa Research Institute
Photo by Macau Photo Agency on Unsplash