Sinyal positif kesepakatan dagang AS-China mempengaruhi perdagangan bursa regional






Minggu II November 2019

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap memengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut:

Publikasi data GDP Q3 2019 dan indikator manufaktur PMI sejumlah negara menjadi sentimen utama penggerak pasar minggu lalu. Sinyal positif kesepakatan dagang AS-China turut mewarnai arah perdagangan di bursa regional.

Dari domestik, ekonomi Indonesia Q3 2019 tumbuh 5,02% yoy, melambat dibandingkan Q2 2019 (+5,05% yoy) dan Q3 2018 (+5,17% yoy). Perkembangan ini dipengaruhi oleh permintaan domestik yang tetap terjaga dan kinerja sektor eksternal yang sedikit membaik, meski permintaan global dan harga komoditas global sedang menurun. Dibandingkan Q3 2018, semua komponen GDP pada sisi pengeluaran melambat. Konsumsi rumah tangga dan investasi tumbuh solid masing-masing sebesar 5,01% yoy dan 4,21% yoy. Belanja pemerintah tumbuh melemah 0,98% yoy, dan ekspor sedikit membaik sebesar 0,02% yoy. 

Posisi cadangan devisa Indonesia per Oktober 2019 mencapai USD 126,7 miliar, lebih tinggi dari posisi September 2019 sebesar USD 124,3 miliar. Posisi cadangan devisa Oktober 2019 setara dengan pembiayaan 7,4 bulan impor atau 7,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 buIan impor. Kenaikan cadangan devisa bersumber dari penerbitan global bond pemerintah, penerimaan devisa migas dan valas lainnya. Seperti diketahui bahwa pemerintah pada Oktober 2019 menerbitkan global bond senilai USD 1 miliar dan Euro senilai 1 miliar Euro.

Dari ekonomi China, People’s Bank of China (PBOC) memangkas bunga pinjaman jangka menengah-one-year MLF loans (medium-term lending facility) sebesar 5 bps menjadi 3,25 persen pada November 2019, atau penurunan pertama sejak awal 2016.

Laju inflasi bulanan China di buIan Oktober 2019 mencapai 0,9% mom, flat seperti buIan sebelumnya. Harga bahan makanan masih mencatat kenaikan tinggi, yang membawa inflasi tahunan meningkat menjadi 3,8% yoy, dari 3,0% yoy di bulan sebelumnya.

Nilai ekspor dan impor China di bulan Oktober mencetak nilai yang lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Ekspor dan impor masing-masing turun 0,9% yoy dan 6,4% yoy, yang membawa surplus neraca dagang Oktober melebar menjadi USD 42,81 miliar (vs USD 40,83 miliar konsensus), dari surplus September USD 39,7 miliar.

Dari ekonomi Eropa, GDP Eropa Q3 2019 tumbuh 1,1% yoy, melambat dari Q2 2019 (+1,2% yoy), atau tercatat menjadi pertumbuhan paling rendah sejak Q4 2013. European Commission memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Eropa dari 1,2% menjadi 1,1% di tahun 2019, menyusul ketidakpastian konflik dagang, risiko geopolitik, pelemahan sektor manufaktur dan Brexit. Untuk tahun 2020 dan 2021, ekonomi Eropa diproyeksi tumbuh hanya 1,2%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 1,4%.

Penjualan retail kawasan Eropa tumbuh 0,1% mom di buIan September 2019, lebih rendah dari buIan sebelumnya sebesar 0,6%, dan sesuai dengan ekspektasi pasar. Kenaikan penjualan terjadi pada kelompok produk farmasi dan obat media, serta belanja online dan internet. Sedangkan penjualan kelompok produk komputer, buku, tekstil, pakaian dan alas kaki mengalami penurunan.

Indikator manufaktur-lHS Markit Uni Eropa di bulan Oktober 2019 sedikit membaik ke level 45,9 dari level 45,7 di bulan sebelumnya. Kontraksi sektor manufaktur EU masih terjadi menyusul turunnya order baru, output produksi, dan penjualan ekspor.

Dari ekonomi AS, klaim tunjangan pengangguran mingguan (per 2 November 2019) menurun 8 ribu aplikasi menjadi 211 ribu aplikasi, level terendah dalam 4 minggu. Rerata 4 mingguannya mencapai 215.250 aplikasi, sedikit meningkat 250 aplikasi dari minggu sebelumnya.

Indikator non manufaktur-lSM non manufacturing PMI meningkat ke level 54,7 di bulan Oktober 2019 (vs level 53,5 konsensus) dari level 52,6 di bulan sebelumnya. Ekspansi sektor jasa di dorong akselerasi pertumbuhan order baru, serapan tenaga kerja dan aktivitas bisnis.

Pesanan yang diterima pabrikan AS (factory orders) menurun 0,6% mom (vs -0,5% mom ekspektasi) di bulan September 2019, setelah di bulan sebelumnya juga turun 0,1% mom. Lemahnya permintaan terjadi pada kelompok produk perlengkapan transportasi seperti pesawat terbang, serta kelompok komputer dan elektronik.

Nilai ekspor (-0,9% mom) dan impor AS (-1,7% mom) di bulan September menurun masing-masing ke level USD 206 miliar dan USD 258,4 miliar. Perkembangan ini membawa defisit dagang menjadi USD 52,5 miliar, menyempit dari buIan sebelumnya sebesar USD 55 miliar. Defisit dagang ini menjadi terendah dalam 5 bulan.

Minggu Ill November 2019
Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain

USA: Laju inflasi, output industri, penjualan retail
Jepang: GDP Q3 2019, core machinery orders
EU: Output industri, neraca perdagangan luar negeri
China: Output industri, penjualan retail, investasi aset tetap
Indonesia: Neraca perdagangan

 

Source: Danareksa Research Institute