Perancis: Trump kembali mengancam perang dagang baru dengan Brazil, Argentina, dan Perancis






Minggu II Desember 2019

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap memengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut

Sentimen perang dagang dan rilis indikator manufaktur terkini di sejumlah negara memengaruhi kinerja pasar minggu lalu. lndeks pasar minggu lalu sempat tersungkur pasca komentar Presiden Trump yang ingin menunda kesepakatan dagang dengan China hingga pemilu presiden 2020 usai. Pemerintah AS sebelumnya menyatakan bahwa tarif impor baru akan dikenakan pada produk dari China senilai USD 160 miliar pada 15 Desember 2019, jika keduanya gagal mencapai kata sepakat.

Pada perkembangan terbaru, Presiden Trump kembali menebar ancaman perang dagang terbaru dengan Brazil, Argentina, dan Perancis. Presiden Trump mengancam akan mengembalikan kenaikan tarif impor baja dan aluminium dari Brazil dan Argentina, karena dianggap mendevaluasi mata uangnya masing-masing secara masif. Hal ini dianggap merugikan para petani dan manufaktur AS dalam mengekspor produknya. Sementara kepada Perancis, Trump juga mengancam akan mengenakan tarif impor hingga 100 persen pada produk asal Perancis senilai USD 2,4 miliar, diantaranya champagne, keju dan sejumlah produk mewah lainnya. Hal ini merespon keputusan Perancis yang mengenakan pajak penghasilan 3 persen atas perusahaan teknologi asal AS, termasuk bisnis iklan dan marketplace digital.

Dari domestik, cadangan devisa Indonesia per Akhir November 2019 mencapai USD 126,6 miliar, stabil dibandingkan posisi buIan sebelumnya sebesar 126,7 miliar. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,5 bulan impor atau 7,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 buIan impor. Perkembangan cadangan devisa pada November 2019 terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa migas, penerimaan valas lainnya, dan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Dari ekonomi Jepang, pemerintah Jepang mengumumkan paket stimulus fiskal senilai JPY 13,2 triliun (USD 121 miliar) pada 5 Desember 2019, yang ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, membantu pemulihan dampak kerusakan bencana topan, dan melanjutkan investasi penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020. Paket stimulus terbesar sejak 2016 ini akan mencakup bantuan non tunai, pinjaman berbunga rendah untuk perusahaan dengan proyek infrastruktur, pelaksanaan jasa pelatihan kerja, subsidi UMKM, ekspansi pasar ekspor produk pertanian, serta bantuan perangkat komputer untuk sekolah umum.

Indikator manufaktur Jepang-Jibun Bank Japan Manufacturing PMI naik dari level 48,4 ke level 48,9 di bulan November 2019. Permintaan ekspor dan produksi output menurun, membawa aktivitas manufaktur Jepang masih di zona kontraksi.

Indeks prospek ekonomi-LEI Jepang turun ke level 91,8 (vs 92,0 prediksi pasar) di bulan Oktober 2019 dari level 91,9 di bulan sebelumnya. Perkembangan ini mengindikasikan prospek ekonomi Jepang yang melambat dalam 6- 12 bulan mendatang, menyusul dampak perang dagang dan keyakinan rumah tangga yang melemah.

Dari ekonomi Eropa, indikator IHS Markit Eurozone Manufacturing PMI tercatat naik dari level 45,9 ke level 46,9 di bulan November 2019. Level PMI dibawah 50 menjadi indikasi kontraksi sektor manufaktur Eropa dalam 10 bulan terakhir, menyusul turunnya order baru, output produksi, order ekspor dan serapan tenaga kerja.

Dari ekonomi China, indikator manufaktur China-Caixin Manufacturing PMI bulan November naik ke level 51,8 dari level bulan sebelumnya, 51.7. Ekspansi sektor manufaktur usaha kecil dan menengah tercatat terus terjadi dalam 4 buIan terakhir, didorong pertumbuhan output, order baru, serta pesanan ekspor yang naik untuk pertama kali dalam 1,5 tahun.

Indikator Caixin China General Services PMI di bulan November 2019 naik ke level 53,5 (vs 52,7 konsensus) dari level 51,1 di buIan sebelumnya. Ekspansi sektor non manufaktur China ditopang pertumbuhan order baru, dan order ekspor yang diterima pebisnis.

Dari sisi ekonomi AS, indikator ISM Manufacturing PMI buIan November 2019 turun ke level 48,1 dari level buIan Oktober 48,3, dan lebih rendah dari ekspektasi pasar 49,2. Hasil survey terhadap pelaku bisnis menunjukkan menurunnya order baru, permintaan ekspor baru dan serapan tenaga kerja di pasar. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sektor manufaktur AS masih berkontraksi.

Indikator ISM Non-Manufacturing PMI di bulan November 2019 turun ke level 53,9 (vs 54,5 konsensus pasar) dari level 54,7 di bulan sebelumnya. Aktivitas sektor jasa AS tumbuh lebih lambat dari yang diperkirakan, meski order baru dan serapan tenaga kerja masih meningkat.

Pada sisi kinerja perdagangan luar negeri, nilai ekspor (-0,2%) dan impor (-1,7%) AS di bulan Oktober 2019, menurun masing-masing mencapai USD 207,12 miliar dan USD 254,3 miliar. Hal ini membawa defisit perdagangan sebesar USD 47,2 miliar (vs defisit USD 48,7 miliar konsensus), menurun dibandingkan defisit bulan sebelumnya sebesar USD 51,1 miliar. Gap perdagangan ini menjadi yang terendah dalam 17 bulan.

Di sektor manufaktur AS, order yang diterima pabrikan (factory orders) tumbuh 0,3% mom di bulan Oktober 2019, menyusul penurunan 0,8% mom di bulan September. Kenaikan permintaan terjadi pada kelompok produk perlengkapan transportasi, komputer dan elektronik, serta mesin.

Di sektor tenaga kerja AS, serapan tenaga kerja non pertanian di buIan November 2019 mencapai 266 ribu posisi (vs 181 ribu proyeksi pasar), meningkat dari buIan sebelumnya sebesar 156 ribu posisi. Rerata 3 bulanan serapan tenaga kerja naik dari 189 ribu posisi menjadi 205 ribu posisi. Tingkat pengangguran AS menurun dari 3,6% menjadi 3,5%. Rerata pendapatan perjam yang diterima tenaga kerja tumbuh melambat dari 0,4% mom menjadi 0,2% mom. Sedangkan klaim tunjangan pengangguran mingguan (per 30 November 2019) menurun 10 ribu aplikasi menjadi 203 ribu aplikasi. Rerata 4 mingguannya mencapai 217.750 aplikasi, atau lebih rendah 2 ribu aplikasi dari minggu sebelumnya.

ADP Employment Report menunjukkan bahwa tambahan serapan tenaga kerja swasta AS non pertanian mencapai 67 ribu posisi di bulan November, lebih rendah dari serapan bulan sebelumnya sebesar 121 ribu posisi. Menurut ukuran usaha, usaha kecil menambah 11 ribu posisi, usaha menengah (+29 ribu posisi) dan usaha besar (+27 ribu posisi). Menurut sektor usaha, sektor industri mengurangi tenaga kerja sebanyak 18 ribu posisi, sedangkan sektor jasa menambah serapan sebanyak 85 ribu posisi.

Pada pertemuan di Vienna, OPEC dan negara produsen non OPEC sepakat memangkas produksi lebih besar, dengan tambahan sebanyak 500 ribu barel/hari (bpd) hingga Maret 2020. Hal ini membawa total pemangkasan produksi mencapai 1,7 juta bpd. Arab Saudi sendiri menyatakan berencana memotong produksi secara sukarela hingga 400 ribu bpd, sehingga membawa potensi pemangkasan hingga 2,1 juta bpd.

Minggu Ill Desember 2019

Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain

* USA: NFIB Small Business Index, laju inflasi, FOMC rate decision, producer price index, penjualan retail, klaim tunjangan pengangguran mingguan.
* Jepang: Tankan index, industrial production
* China: Laju inflasi, producer price index,
* EU: Industrial production, ECB rate decision
* Indonesia: Penjualan otomotif

 

Source: Danareksa Research Institute
Photo by Reuben Mcfeeters on Unsplash