DRI | M1-Okt-2019 : Perkembangan indikator dini PMI mengindikasikan kontraksi aktivitas manufaktur.






Minggu I Oktober 2019

Publikasi terkini dan peristia ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap memengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut

Minggu lalu rilis data dini indikator manufaktur sejumlah negara menghiasi perkembangan ekonomi global. Perkembangan indikator dini PMI mengindikasikan kontraksi aktivitas manufaktur. Selain itu pelaku pasar mencermati perkembangan negosiasi dagang AS-China, risiko politik dalam negeri AS, dan geopolitik lainnya. Hasilnya tekanan jual masih menekan kinerja pasar.

Dari ekonomi Jepang, lndikator manufaktur dini-Jibun Bank Japan Manufacturing PMI di bulan September turun ke level 48,9 dari bulan sebelumnya, 49,3. Kontraksi aktivitas manufaktur Jepang dipicu menurunnya pesanan baru dan permintaan ekspor sebagai dampak perang dagang AS-China.

Harga barang dan jasa di tingkat konsumen Jepang cenderung flat (+0,0% mom) di bulan Agustus 2019, menyusul kenaikan 0,1 % mom di buIan sebelumnya. Secara tahunan, laju inflasi melambat dari 0,5% yoy menjadi 0,3% yoy (vs 0,6% yoy konsensus). Harga kelompok makanan naik lebih lambat, sementara untuk kelompok non makanan bergerak flat. Tingkat inflasi ini merupakan yang terendah dalam 6 bulan terakhir, yang memicu spekulasi adanya stimulus ekonomi Bank of Japan di periode mendatang. BOJ mempertahankan kebijakan moneter yang saat ini berjalan.

Dari ekonomi China, pasca penurunan rasio cadangan minimum perbankan sebesar 50 bps, People’s Bank of China (PBOC) memangkas standar bunga kredit 1 tahun-loan prime rate (LPR) dari 4,25% menjadi 4,20%. Sedangkan untuk bunga kredit 5 tahun tetap sebesar 4,85%.

Lesunya pertumbuhan sektor industri China berdampaknya pada menurunnya pertumbuhan penjualan dan laba industri. Sepanjang periode Januari-Agustus 2019, laba industri menurun 1,7% yoy menjadi CNY 4,01 triliun, seperti bulan sebelumnya.

Dari Eropa, indikator dini manufaktur- IHS Markit Eurozone Manufacturing PMI di bulan September 2019 menurun ke level 45,6 dari level 47,0 di bulan sebelumnya, dan lebih rendah dari konsensus pasar, 47,3. Aktivitas manufaktur EU masih berkontraksi, seiring turunnya order baru, output produksi industri, dan penjualan ekspor.

Dari sisi ekonomi AS, rilis terakhir Bureau of Economic Analysis menunjukkan bahwa ekonomi AS Q2 2019 tumbuh 2,3% yoy, melambat dibandingkan pertumbuhan Q1 2019 (+2,7% yoy) dan Q2 2018 (+3,2% yoy). Dibandingkan dengan Q2 2018, pertumbuhan belanja rumah tangga (+2,6% yoy), investasi (+3,9% yoy), dan impor (+2,6% yoy) melambat. Belanja pemerintah tumbuh lebih tinggi (+2,3% yoy), sementara ekspor menurun (-1,7% yoy). Pada buIan Agustus 2019, nilai ekspor dan impor AS masing-masing mencapai USD 137,8 miliar (+0,1 %) dan USD 210,6 miliar (+0,3%). Kenaikan impor yang melebihi ekspor membawa defisit neraca dagang melebar menjadi USD 72,8 miliar (vs defisit USD 77,3 miliar proyeksi pasar) dari USD 72,5 miliar di bulan sebelumnya.

lndikator dini-lHS Markit US Manufacturing PMI naik ke level 51,0 di bulan September dari bulan sebelumnya 50,3. Membaiknya aktivitas manufaktur AS ditopang meningkatnya pesanan baru yang diterima pabrikan, dan output produksi. Sedangkan permintaan ekspor masih melemah.

Penjualan rumah baru di AS pada buIan Agustus 2019 tumbuh 7,1 % mom menjadi 713 ribu unit (SA annual rate), menyusul koreksi 8,6% mom di bulan sebelumnya, dan melebihi ekspektasi pasar yaitu naik 3,5% mom. Median harga rumah baru tumbuh 2,2% yoy menjadi USD 328,4 ribu, dengan rerata harga jual yang melonjak 6,1 % menjadi USD 404,2 ribu. Kontrak penjualan rumah di bulan Agustus tercatat tumbuh 2,5% yoy, menyusul penurunan 0,3% di bulan sebelumnya. Meningkatnya kontrak penjualan stok rumah ini didorong bunga KPR yang menurun.

Di sektor tenaga kerja AS, klaim tunjangan pengangguran mingguan AS (per 21 Sept 2019) meningkat 3 ribu aplikasi menjadi 213 ribu aplikasi. Rerata 4 mingguannya cenderung stabil pada level 212 ribu aplikasi, sedikit menurun 750 aplikasi dari minggu sebelumnya.

Di sektor konsumen AS, pendapatan dan belanja personal masyarakat tumbuh 0,4% mom dan 0,1% di buIan Agustus 2019, menyusul kenaikan masing-masing 0,1% mom dan 0,5% mom di bulan sebelumnya. lndikator personal consumption expenditure (PCE) index cenderung flat (+0,0% mom, dan stabii secara tahunan (+1,4% yoy). Core PCE index, diluar komponen energi dan makanan tumbuh 0,1% mom (+1,8% yoy).

lndeks keyakinan konsumen AS terbitan The Conference Board di buIan September jatuh ke level 125,1 dari level sebelumnya 134,2. Optimisme rumah tangga terhadap kondisi ekonomi saat ini dan prospeknya dalam jangka pendek, cenderung menurun. Eskalasi perang dagang dengan China dan naiknya tarif barang impor mulai memengaruhi konsumen.

Di sektor industri, pesanan produk tahan lama yang diterima pabrikan tumbuh 0,2% mom di bulan Agustus, melambat dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 2% mom. Permintaan tercatat meningkat pada produk metal, dan mesin, sementara untuk produk pesawat terbang, kendaraan bermotor dan suku cadangnya cenderung melambat.

Pekan lalu, US House speaker Nancy Pelosi mengumumkan dakwaan formal terhadap Presiden Trump atas penyalahgunaan kekuasaan. Presiden Trump dianggap menekan pemimpin Ukraina untuk menyelidiki keluarga bakal calon presiden dari Demokrat, Joe Biden.

 

 

 

Minggu II Oktober 2019

Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain

• USA: ISM Manufacturing PMI, factory order, durable goods order, ADP employment report, tingkat pengangguran
• Jepang: Tankan Index, Jibun Bank PMI, Consumer Confidence Index
• EU: lnflasi, tingkat pengangguran, penjualan retail
• China: NBS manufacturing PMI, Caixin PMI, cadangan devisa
• Indonesia: lnflasi, Markit PMI, cadangan devisa

All rights reserved. No part of this publication may be reproduced, stored in retrieval systems, or transmitted, in any form or by any means, electronic, mechanical, photocopying, recording, or otherwise, without the prior written permission of Danareksa Research Institute.

 

Photo by Kiefer Likens on Unsplash